Abrakadabra!: Manajemen Politik ala Jokowi

Amelia Rizqi Priyantiaz, S.ST, MM , Wakil Ketua Umum Bintang Muda Indonesia

“Pemimpin yang tidak Kompeten, akan lebih sulit ketika memberi arah di masa krisis.”

Kutipan di atas mencerminkan situasi yang sedang kita alami bersama di bawah pemerintahan Joko Widodo. Berbagai persoalan yang ada di masa pandemi ini seperti aturan yang tumpang tindih, ngototnya pengesahan RUU yang tidak berpihak pada rakyat dan amburadulnya koordinasi antara kepala daerah dengan pemerintah pusat, seperti terjadi di Papua dengan Menteri Luhut menggoreskan luka menganga yang menampar wajah NKRI sebagai negara satu kesatuan dan terkoordinasi pusat dan daerah, belum lagi soal bantuan sosial yang tidak tepat sasaran ini menjadi cambuk bukan hanya di isu good goverment tapi juga di isu revolusi mental yang dijago-jagokan Joko Widodo

Banyak Menteri bertabrakan beruntun dengan melakukan hal yang bukan menjadi tanggung jawabnya. Di Masa Pandemi ini juga yang mengherankan muncul isu bahwa Wapres tak memiliki keleluasaan menggunakan perannya

Perjalanan transisi kita melewati covid-19 akan semakin berat, keras dan menyeramkan dengan manajemen abrakadabra ala Joko Widodo. Anehnya, di era Covid ini juga semakin membuat banyak partai menjaga jarak dengan rakyat dan banyak praktik-praktik sembunyi-sembunyi meloloskan politik calon tunggal, meloloskan RUU yang mencekik rakyat, menjadi pengekor kepada pemimpin yang sudah nampak kebingungan tanpa kritisisme. Organisasi Mahasiswa dan Pemuda banyak yang tak bergerak dan diam sambil memikirkan suksesi internal yang juga sama gaduhnya dengan kondisi bangsa ini.

Pemimpin dan Kemantapan Hati

Presiden, di situasi yang seperti ini, harus berani melakukan terobosan untuk mengatasi berbagai kegaduhan dan ketidakpastian, Presiden harus memiliki kemantapan hati sebab kalau ragu, tanpa keyakinan dan nyali melawan kepentingan orang sekitar, maka ancaman protes dari banyak lapisan masyarakat juga pasti akanya nyata, seperti mulai bermunculanya aksi massa di mana-mana, selain tentunya ancaman distabilitas sosial seperti tawuran, penjarahan dan lainnya yang bermunculan terus-menerus

Di level internasional juga Presiden juga harus memiliki kemantapan hati untuk bergerak dalam solidaritas global mengatasi pandemi covid-19 ini, membuka jejaring kemanusiaan seperti yang dilakukan oleh dokter-doter Kuba. Jika dirasa masih belum mampu, maka kita juga perlu rendah hati untuk menerima bantuan dokter-dokter itu untuk berkolaborasi membentuk pertahanan kesehatan warga.

Berjatuhannya warga, tim medis—khususnya dokter—hingga Kepala Daerah yang meninggal di masa covid-19 ini adalah tamparan yang serius bagi negeri ini, namun tak jua memberikan kemantapan hati dan nyali bagi Presiden untuk benar-benar mengambil langkah keras dan serius. Keseriusanya serta berapi-apinya pidato Presiden tidak diiringi dengan tindakan nyata, atau malah ini juga persoalan kinerja pembantu presiden yang tidak kompeten.

Belajar dari era SBY dulu, setiap ada krisis pasti, yang mampu memberikan kepastian arah ke publik bahwa pihaknya akan secara sistematis dan komprehensif menangani krisis dan semua Tim bekerja dan bergerak memastikan instruksi Presiden berjalan dengan baik.

Presiden harusnya setiap hari berdiri di depan istana memberikan arah dan motivasi kuat, untuk memastikan krisis ini dan ancaman krisis yang lebih keras ke depan bisa teratasi, bukan memastikan buah hati dan menantu lolos ikut Pilkada saja. Istana harusnya menjadi markas besar bagi arah penanggulangan krisis.

Persoalan rakyat dan segala penderitaannya bisa dan harus segera teratasi harusnya ada di hati Presiden. Lonjakan krisis—termasuk krisis Kesehatan covid 19—ini dipastikan akan menjadi lonjakan dashyat kedepan bila kerja-kerja sistematis tidak segera dilakukan. Alih-alih malah ugal-ugalan dalam membuat kebijakan dan membuat kita, semua orang tenggelam dalam badai yang sama.

Check Also

Bersatulah, Ditengah Kegamangan Pemerintah

Periode kedua pemerintahan Joko Widodo sudah hampir setengah tahun berjalan, tapi nampaknya sebagai rakyat kita …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *