by

Adil Dulu, Baru Damai! Sebuah Refleksi Seorang Pemimpin

Resensi Buku

Oleh: Kenang Kelana*

Sejarah perkembangan masyarakat, jika ingin dibaca agak ke dalam, maka kita akan menemukan beberapa ketersambungan dari setiap patahan sejarahnya yang bertalian, yang itu pada prinsipnya bermuara kepada pencarian konsep/bentuk keadilan. Modernitas, dalam sosiologi, juga memiliki argumentasi yang kurang lebih mengantarkan kehidupan paska apa yang kemudian disebut tradisional menjadi lebih adil. Sistem, teori, negara, ekonomi, teknologi dan seterusnya, di manapun tempat dan zamannya, semua unsur kehidupan diformulasikan untuk paling tidak bisa sampai pada cita-cita kesejahteraan/keadilan.

Aliran filsafat, baik Materialisme maupun Idealisme, juga sama, mengemban tugas mencari konsepsi keadilan yang itu bisa diimplementasikan dalam kehidupan normatif manusia. Penjelasan-penjelasannya menjadi cara pandang atas persepsi kita tentang keadilan di setiap keadaan dan zaman.

Berbeda dengan penjelasan filsafat yang detail dan konseptual, buku yang ditulis mantan presiden Indonesia ke enam, Susilo Bambang Yudhoyono, justru dirangkai dengan kalimat-kalimat sederhana dengan contoh-contoh yang bisa dimengerti orang awam. Pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan cukup mendasar untuk memahami kenapa kedamaian belum bisa terwujud, dan mengapa ketidakadilan masih menghantui kita di banyak negara.

Contoh-contoh keadilan dan ketidakadilan bisa dinikmati senyaman mengayuh sepeda bromton, karena yang dipaparkan adalah contoh yang beririsan langsung dengan kehidupan kita. Berlatar cerita bencana alam, ia menceritakan beberapa bentuk ketidakadilan;

“Setiap korban bencana akan mendapatkan bantuan sesuai dengan kondisi keruskan yang diterimanya; Pak Anwar yang rumahnya rusak berat hanya terima uang 25 juta rupiah. Sementara, tetangganya, Pak Mulyanto justru menerima uang 50 juta rupiah, padahal kerusaknya lebih ringan dari rumah Pak Anwar. Mengapa hal ini terjadi? Usut punya usut, ternyata Pak Mulyanto adalah saudara dekat kepala desa yang mengatur dan menyalurkan bantuan bencana itu di desa tersebut.” Adilkah ?

Lantas ada narasi tentang diskriminasi kulit hitam dan putih yang diwakili dengan contoh kongkrit kematian George Floyd ditangan angota kepolisian berkulit putih, perlakuan bias gender dibeberapa praktik koorporasi, manipulasi demokrasi saat pemilu yang dianggap sering kali justru dimainkan oleh pihak yang berkuasa dan tidak luput juga ia memasukkan praktik pembangunan yang, sejak era Marshal Plan, disuntikkan ke negara-negera berkembang nampaknya hanya menghasilkan kesenjangan di bawah mode praktik ekonomi neo-liberalistik.

Semodernnya dunia, dengan tanda-tanda kematangan politik-demokrasi, teknologi, runtuhnya komunisme, majunya pasar bebas, ternyata masih menyisakan pekerjaan-rumah dalam bentuk dan tema yang sama dari sejak awal perkembangan manusia; ketidakdilan. Dan Jangan heran pula, lanjut SBY, jika di banyak belahan dunia manapun ada suasana yang jauh dari (ke)damai(an).

Melalui penjelasan Robert Gurr, Why Men Rebel, terkait latar belakang instabilitas di banyak ruang, di banyak negara, dan kesempatan, SBY merunut alasan-alasan kenapa banyak masyarakat melawan pemerintahnya. Jawabannya memang sangat normatif, misalnya merasa menderita, tertindas, tidak bahagia, selalu tidak dipedulikan oleh pemerintahanya, yang kesemuanya berangkat dari rasa-perasaan (27), dan bermuara pada tema “tidak-adil”.

Pada akhirnya semua instrumen di atas ‘mematangkan’ situasi di mana masyarakat berani mengambil tindakan perlawanan secara kolektif. Di sinilah ketidakadilan juga menjadi katalisator ‘penyatuan’. Ia bisa menjadi tema berbondong-bondong orang berkumpul untuk menyuarakan ketidak puasan atas pemerintahan yang sedang berlangsung. Sebuah pemerintahan yang tidak adil. Gerakan occupy di Wall-Street, Arab Springs, Black Lives Matter d.s.t. adalah contoh bagai mana ketidak puasan atas keadilan mempersatukan orang.

Pertanyaan lanjutan dari buku SBY ini adalah ‘apa yang membuat dunia menjadi tidak damai?’. Dalam catatanya ia merujuk pada beberapa persoalan yang itu menyebabkan dunia jauh dari kedamaian di muka bumi. Pertama, kemiskinan, menjadi perkara yang banyak terjadi dihampir belahan negeri manapun di dunia ini, lebih lanjut SBY menjelaskan bahwa persoalan kemiskinan tidak saja terhitung dari jumlah isi dompet atau rekening seseorang, tetapi juga menjara pada pisikologi warga-masyarakatnya yang merasa ditinggalkan, dikesampingkan bahkan tidak dipedulikan oleh negara/pemerintah. PBB bahkan sampai menjadikan isu ini sebagai program yang harus dientaskan melalui serangkaian kegiatan dan program sperti MDGs/SDGs.

Kedua, ketimpangan, ini juga menjadi masalah yang khususnya banyak terjadi di negara-negara dunia ketiga seperti Indonesia. Ketimpangan yang dimaksud juga harusnya tidak sekedar dibaca soal prosentase antara orang kaya dengan miskin atau yang memiliki dan yang tidak memiliki (hard), akan tetapi juga harus masuk ke dalam persoalan yang tidak terlihat (soft) dari sana kemudian kita bisa melihat agak lebih jernih persoalan ketimpangan yang kita alami.

Ketiga, diskriminasi, beberapa kasus dari pecahnya kerusuhan sosial hingga perjuangan yang sistematis yang pernah ada juga salah satunya disebabkan oleh perilaku diskriminatif. Banyak contoh yang ditulis dalam buku ini untuk membuka catatan tentang itu, baik yang sifatnya bersifat agama, ras dan kesukuan bahkan gender. Keempat, represi negara, ini juga masih bisa kita jumpai dibeberapa negara, kontrol terhadap masyarakat yang berlebihan akhirnya mengancam prinsip dari kebebasan yang dijamin oleh aturan (UU), bahkan piagam-piagam internasional. Prangkat suprastruktur yang bekerja mewakili negara bisa masuk dalam menembus dimensi privat dari warga baik yang terjadi secara terang-terangan maupun tersembunyi. Tentara, kepolisian, intelejen, hingga pendidikan (sekolah) tools yang bisa dipakai untuk melakukan itu.

Kelima, warlike leader-pemimpin yang menyenangi peperangan, ini juga persoalan, sejak world war I-II yang terjadi di awal-awal abad ke XXI dan telah menelan begitu banyak korbannyawa. Perang memang tidak terlihat secara langsung dan berhubungan dengan ketidakadilan, namun siapa sangka dampak peperangan justru yang paling nyata dari aktifitas perang yang mengakibatkan kerusakan dan kemiskinan masyarakat yang terdampak. Bukankah justru keadilan sulit ditegakkan jika karakter kepemimpinannya adalah warlike?

Terakhir sebagai penutup bab dari buku ini, SBY memberikan advice tentang perubahan dunia yang lebih adil, yang harapannya bisa melahirkan kedamaian melalui pertanyaan siapa yang bisa melakukan perubahan ini dan darimana kita mulainya? Meskipun pertanyaan ini diakuinya tidak akan pernah terjawab dengan ‘cespleng’.

Pandemi COVID-19 yang melanda dunia sejak awal tahun 2020 hingga hari ini harusnya bisa menjadi momen bagi banyak negara dan bangsa melihat ulang, dan tidak semata-mata merespon dengan cepat Langkah-langkah yang akan diambil untuk menyelesaikan dampaknya, tetapi berfikir secara reflektif dan holistit tentang apa yang sudah terjadi di dunia belakangan ini.

Harus ada orang yang memulai dan berani untuk mengajukan pertanyaan reflektif terkait ada yang sudah terjadi dibumi sepuluh dua puluh tahun belakangan, dan menjadikan manusia dan alam sebagai subjek pembicaraannya. Bukankah kemiskinan dan penindasan adalah narasi yang selalu muncul dari setiap cerita dinasti-dinasi politik baik yang tradisional maupun modern. Lantas perubahan iklim yang terjadi pada 100 tahun yang lalu dengan hari ini mengarah pada tingkat krisis lingkungan yang akut? Bagaimana mungkin dibanyak negara terjadi kelangkaan air? Sementara di belahan lain terbanjiri air yang juga merenggut nyawa manusia.

Sekali lagi dengan nada optimis, dalam buku ini, SBY percaya bahwa dunia yang sedikit lebih adil dan damai bisa diwujudkan, dorong subjek-subjek di antara kita untuk bersikap, bertindak, dan berfikir adil. Sehingga politik (negara) diisi oleh orang-orang yang memiliki keteguhan dan kematangan tentang perspektif keadilan yang utuh. Dengan itu semua kedamian yang kita bayangakan bisa segera terjadi.

Tabik.

Judul: Dunia Damai Jika Keadilan Tegak | Penulis: Susilo Bambang Yudhoyono | Penerbit: Yudhoyono Publishing | Tahun Terbit: Agustus, 2020

*) Peresensi: Kenang Kelana (Ketua Departemen Pendidikan dan Pengkaderan DPN-BMI)

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed