AHY dan Pandemic

Oleh : Wisnu Agung Prasetya*


Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menggunakan terminologi kelas dalam tulisan terakhir soal May Day. Menolak Omnibus law dan kartu pra-kerja yang absurd. Pentingnya negara hadir membela buruh. Saya apresiasi sepenuhnya atas hal ini. Anak-anak muda yang positioning terhadap masalah maupun solusi kebangsaan. Sedikit dari beberapa anak muda yang mulai terlihat leadership-nya. Anak muda banyak, tapi yang ketua partai sedikit.

Saya kira pikiran dan ucapan AHY bisa dipertanggungjawabkan. Argumen yang paling kuat, ia telah ambil resiko dengan keluar dari militer dan mengambil jalan demokrasi. Seperti diketahui, soal hubungan produksi dan kehidupan sipil lainnya tentu akan lebih mudah dipecahkan dengan jalan ini, dibanding bertahan di tentara menunggu di pengkolan jalan, menanti kekuasaan saat uzur pensiun tiba.

Masalahnya adalah, sebagai DNA baru, dapatkah partai menyimpan dan menyandi instruksi yangg akan berperan penting dalam pertumbuhan, perkembangan, dan fungsi organisasi. Tentu bisa, bila organisasi bertindak sebagai organisme. Syaratnya semua kader mampu menjadi rantai punggung. Kalo AHY sudah ambil resiko mengambil kepemimpinan di Demokrat, resiko apa yg sudah diambil para kader untuk tetap didalam barisan ?

Dalam konteks ini diperlukan tindakan lebih. Untuk pasokan gagasan, Informasi, public critical rational discourse, yang kadang harus melampaui dari informasi dan pengetahuan AHY sendiri. Mengujinya dalam sejarah organisasi, masyarakat, dan kebangsaan. Ini penting mengingat masih saja perannya saat ini selalu dikaitkan dengan warisan politik.

Pada konteks warisan, ia menghadapi kenyataan, Demokrat dari partai penguasa dua pemilu, dan diluar sistem menuju pemilu ke dua. Kebutuhan untuk rebound perlu dikerjakan dalam wilayah dan metode yang lebih luas. Artinya dibutuhkan kerja didalam sistem (DPR) dan diluar. Lantas apa ? Mungkin yg diperlukan adalah arsitektur dua kecepatan. Pertama organisasi yang berada di garis massa. Kedua, fraksi di DPR, serta advokasi kebijakan lainnya. Dengan begitu masing2 dapat berfungsi secara optimal dalam metodologi siklus pengembangannya masing2. Sambil tetap berfungsi secara koheren di seluruh organisasi.

Arsitektur ini juga bukan soal warisan namun juga menjawab tantangan. Seperti diketahui pandemik telah membawa pada perubahan drastis dari semua aspek kehidupan. Membangun alignment antara harapan masyarakat dan partai menjadi tugas utama. Dimulai dengan pikiran, tindakan yang mitigatif, proyektif, dengan pelibatan yang tinggi. Sudah waktunya kader dengan nilai lama (kedekatan) beralih ke pendekatan (metodologi). Politik sebagai “barokah dan kendurian” diparkir dulu. Zaman berubah, kalau kau tak lebih smart dan agile dari AHY, bagaimana kau akan membantunya ?

*) Profesional Muda

Check Also

Ada Apa dengan Amerika?

Oleh: Andi Mallarangeng Beberapa hari ini banyak kawan bertanya kepada saya: Apa yang terjadi dengan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *