by

BMI Bangga Demokrat Tetap Teguh Berada di Barisan Bersama Rakyat 

Jakarta – Ketua Umum DPN BMI Farkhan Evendi menyebut bahwa adagium atau pepatah yang menyatakan bahwa kalau kekuatan tak seimbang maka jangan melawan pemerintah adalah adagium yang keliru dan mudah dipatahkan.

“Adigiun itu tidak relevan, adigiun tidak cocok digunakan dimasa demokrasi yang rakyat sudah cerdas dan pintar dalam berpolitik,” kata Farkhan, Jumat (8/10).

Menurut pria yang akrab disapa Cak Farkhan menyebut bahwa banyak sekali partai yang suaranya justru kian merosot ketika mendukung pemerintah. Banyaknya partai koalisi pemerintah bukan suatu hal yang menjadikan partai-partai tersebut memiliki suara dan pendukung yang bertambah.

“Begitu juga sebaliknya, partai yang berada di oposisi pun dapat memiliki suara yang banyak dan bisa menduduki peringkat pertama. Sudah banyak contoh partai yang berada di oposisi terus naik hingga menjadi peringkat pertama,”ucap Farkhan.

Menurut Farkhan, Partai Demokrat yang saat ini berada di oposisi adalah partai yang terbiasa berkuasa dan sudah terbukti dan teruji memimpin Indonesia. Maka, dengan pengalaman politik dan matang dalam bersikap tak gampang digertak oleh apapun.

“Diluar dan didalam kekuasaan, Demokrat hanya takut bila digertak akan hilangnya kepercayaan rakyat, sebab energi partai yang abadi adalah kepercayaan rakyat. Demokrat tidak merasa kesulitan walau partai lain sudah tak dibarisan oposisi seperti Gerindra dan PAN, tahun 2014 pun yang menyebrang ke Jokowi adalah PPP dan Golkar”ujar Farkhan.

Begitu juga dengan gertakan yang dilakukan oleh pengacara Yusril Ihza Mahendra yang ditunjuk menjadi pengacara kubu Moeldoko yang notabene dengan segala kekuatannya akan mengambil alih kekuasaan pucuk pimpinan Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Farkhan menjelaskan bahwa, jutaan rakyat Indonesia menyaksikan soal perpolitikan di Indonesia, apalagi Demokrat yang selama ini konsisten dengan menggaungkan slogan Berkoalisi dengan Rakyat.

“Rakyat menyaksikan perpolitikan di Indonesia, bagaimana Moeldoko akan mengambil alih Demokrat dengan segala bentuk kekuatannya. Begitu juga Yusril yang dengan angkuhnya menggertak kader-kader Demokrat,” ucap Farkhan.

Farkhan menyebut, salah satu konsekuensi dalam hidup adalah memilih jadi pecundang atau memilih menjadi petarung.

“Demokrat lebih memilih tak menjadi berdiri mati gaya didepan kekuasaan. Kami tahu konsekuensinya apa, kami juga tahu yang mana majikan kami, Rakyat, penguasa atau oligharki,” ujar Farkhan

Farkhan pun mengaku bangga Demokrat selama ini tetap teguh berada di barisan bersama rakyat.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed