by

BMI Tegas Menolak Investasi Miras Di Indonesia

Presiden Joko Widodo telah mengeluarkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 10 Tahun 2021 tentang Bidang Usaha Penanaman Modal. Perpres ini ditaken kepala negara pada tanggal 2 Februari 2021 yang merupakan turunan dari dari Undang-Undang (UU) Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja.

Di dalamnya mengatur tentang industri minuman keras (miras) sebagai daftar investasi terbuka. Perpres ini merevisi Perpres Nomor 44 Tahun 2016 tentang Daftar Bidang Usaha Tertutup dan Bidang Usaha yang Terbuka dengan Persyaratan di Bidang Penanaman Modal.

Sebelumnya Miras masuk ke dalam industri minuman tertutup.

Investasi Miras baru dapat dilakukan hanya dibeberapa wilayah, seperti Provinsi Bali, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Provinsi Sulawesi Utara, dan Provinsi Papua dengan memperhatikan budaya dan kearifan setempat.

Kedua, Industri Minuman Mengandung Alkohol, seperti Minuman Anggur, Syaratnya, hanya bisa dibuka di wilayaj Provinsi Bali, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Provinsi Sulawesi Utara, dan Provinsi Papua dengan memperhatikan budaya dan kearifan setempat.

Ketiga, Industri Minuman Mengandung Malt bisa diproduksi di wilayah Provinsi Bali, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Provinsi Sulawesi Utara, dan Provinsi Papua dengan memperhatikan budaya dan kearifan setempat.

Bintang Muda Indonesia (BMI) sagai sayap dari Demokrat, partai nasionalis religius dengan tegas menolak hal tersebut.

”Semua agama menolak Miras, Ini penjelasannya larangan alkohol ditinjau dari aturan Hukum Agama” ujar Nadine, Ketua Departemen Agama dan Sosial DPN BMI.

Nadine menjelaskan, hampir 5 agama besar yang diakui di Indonesia menyebut larangam minuman keras.

Dalam tradisi Islam, umat muslim dilarang berjudi dan minum minuman keras, dan ini masuk dalam perbuatan keji (Al Maida; 90). Lantas kita akan menemukan di teks suci agama lainya seperti Kristen (Book of ephesians 5 : 18 & Book of Proverb 20 : 1), Hindu (manusmriti 9 : 255), Buddha (Aturan Ke-5), dan Yahudi (Imamat 9 : 8-9)

”Di dalam sains pun dibuktikan bahwa dalam setiap otak manusia mempunyai inhibitory centre (pusat penghambat orang melakukan pekerjaan yang nyata-nyata salah) tetapi jika orang sedang mabuk kemampuan penghambat ini hilang. Begitulah cara kerja Alkohol” tegas Nadine.

BMI menyampaikan kekhawatiran atas nasib anak muda Indonesia, jika Presiden Jokowi mengajak investor untuk menanam kan modalnya di industri minuman keras. “Bukankah negeri ini kaya raya tidak hanya sekadar Miras?” tanya Nadine.

Nadine menekankan lebih baik pemerintah mengundang investor untuk berinvestasi dibidang perkebunan, perikanan dan pertanian. Dibandingkan harus membuka investasi di industri yang lebih banyak merugikan masa depan anak-anak dibanding kemanfaatannya.

”Misalnya undang investor untuk berinvestasi pada komoditi kehutanan, perkebunan, perikanan, pertanian dan bukan kah itu akan lebih membuat sejahtera Rakyat Indonesia” ujar Nadine.

Nadien menegaskan bahwa BMI menolak Investasi miras yang digalang Presiden Jokowi. Menurutnya masih banyak sektor-sektor produktif yang bisa mendatangkan keuntungan dan kesejahteraan masyarakat Indonesia dibandingkan Miras.

”Dan ini adalah amanat semua kaum agamawan, jadi makna penolakan ini karena miras membawa implikasi bukan saja pada kehidupan agama tapi juga kehidupan moral dan kesehatan masyarakat,” tegas Nadine.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed