Crashing chart

Defisit APBN harus di tekan!

Hasbil Mustaqim Lubis, S.T
Ketua BMI DPD DKI Jakarta

Pemerintah melalui Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2020 menaikkan outlook defisit di Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2020 menjadi 6,34 persen dari produk domestik bruto atau PDB. Sebelumnya pemerintah mematok defisit 5,07 persen dalam Peraturan Presiden Nomor 54/2020.

Perpres 72/2020 diterbitkan untuk mengakselerasi belanja negara terkait penanganan pandemi Covid-19 dan program pemulihan ekonomi nasional atau PEN.

Kementerian Keuangan (Kemenkeu) telah mencatat defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020 mencapai Rp500,5 triliun hingga Agustus 2020. Defisit anggaran ini adalah 48,2 persen terhadap target dalam Perpres 72 Tahun 2020 sebesar Rp1.039,2 triliun atau 6,34 persen dari PDB.

Kenaikan defisit ini didasari pada proyeksi Kementerian Keuangan akan pendapatan negara tahun ini yang bakal lebih rendah Rp 60,9 triliun akibat dampak perlambatan ekonomi dan pemberian insentif perpajakan. Sebelumnya pendapatan negara ditargetkan Rp 1.760,88 triliun menjadi Rp 1.699,94 triliun dan diturunkan sejak Perpres 72/2020 diundangkan pada 25 Juni 2020.

Nah berdasarkan penjelasan di atas ada beberapa langkah yang harus di lakukan pemerintah menurut pandangan saya agar dapat menekan defisit APBN yang sangat besar tersebut yaitu di antara nya adalah sebagai berikut :

1. Pertama, pemerintah hendaknya mendahulukan penerbitan surat utang atau SUN domestik berdenominasi rupiah dengan mengutamakan skema pembelian oleh Bank Indonesia.

2. Mempercepat penyaluran dana pemulihan ekonomi nasional (PEN) yang telah di tetapkan, di harapkan sesuai target penyalurannya agar iklim usaha cepat bangkit.

3. Menggenjot seluruh BUMN untuk berpikit out of the box dalam upaya memberi dampak menaikkan Purchasing Managers Index (PMI) agar kegiatan usaha hidup kembali sehingga di harapkan salah satu sumber penerimaaan negara bertambah.

4. Pemerintah harus berani melakukan pemotongan biaya program yang tidak memberikan pengaruh terhadap pajak, devisa, dan sektor riil.

5. Utang (Global bond) adalah menjadi solusi akhir pemerintah. Di harapkan mengambil penawaran rate bunga yang kompetitif bahkan lebih kecil dengan tenor yang di sesuaikan dengan kemampuan Indonesia.

Demikianlah yang bisa saya sampaikan terkait defisit Indonesia saat ini. Harapannya pemerintah mau menerima masukan bagus dari berbagai sumber agar di dapatkan solusi yang tepat dalam menekan defisit APBN.

 

Check Also

Ada Apa dengan Amerika?

Oleh: Andi Mallarangeng Beberapa hari ini banyak kawan bertanya kepada saya: Apa yang terjadi dengan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *