by

Eksistensialisme dan Absurditas Demokrasi di Indonesia

Nur amalia dini priatmi (Nadhine)

Sekretaris Departemen Agama dan Sosial

Menurut konstitusi Indonesia adalah negara demokrasi yang termaktub dalam undang-undang dasar Negara Republik Indonesia 1945 Pasal 1 ayat 2. Dalam sejarah ketatanegaraan Indonesia, semua konstitusi yang pernah berlaku itu menganut prinsip demokrasi.

Maka sejatinya eksistensialisme demokrasi di Indonesia itu bukan hal yang Absurd. Segala keputusan saat memilih pemimpin dalam jangka waktu lima tahun sekali pun pemerintah telah melibatkan rakyat. Mereka yang mencalonkan diri sibuk bebenah diri agar terlihat baik dihadapan rakyat, agar terpilih dan menjadi pemenang pada kontes politik serta pesta besar rakyat itu yang biasa disebut “Demokrasi”.

Namun Global Peace Index 2020 Vision of Humanity dari Institute for Economic and Peace meletakkan Indonesia sebagai negara yang merosot. “Indonesia turun enam angka pada rangking 49, dari 83 (negara). Kondisi ini tidak terlepas dari peristiwa-peristiwa pengekangan kebebasan oleh negara melalui aparatusnya. Kasus seperti keterlibatan militer dalam ruang-ruang sipil, juga seperti penurunan baliho secara paksa oleh aparat negara (TNI).

Maka dari itu demokrasi Indonesia kian terasa absurd. Terlebih saat ini kondisi perpolitikan Indonesia sedang tidak baik-baik saja, carut-marut perpolitikan di Indonesia 2020 pun seakan telah mematikan nilai demokrasi. Mulai dari hadirnya virus Covid-19 dan Kerusuhan petamburan. Kedua hal itu amat sangat terlihat jelas sehingga sebagian orang yang terbilang masih awam pun semakin menatap tajam serta menduga-duga seperti apa peta politik yang sedang dijalankan oleh pemerintah. Dan kini telah memasuki 2021 mari kita rebut demokrasi sejati. Organisir dan perkuat massa rakyat agar memegang kuasa dan kedaulatan.

Jika setelah Pemilu 2024 nanti kamu masih menemukan pengemis yang meminta belas kasihan saat kamu sedang makan enak di warung makan atau bahkan dipinggir jalan, itu artinya Indonesia belum sejahtera dalam negara yang demokratis. Sesederhana itu, kawan.

Percayalah, untuk menjadi seorang yang demokratis, tidak hanya harus menjadi pemilih di Pemilu semata, tapi juga menjadi sosok yang terlibat dalam memperjuangkan eksistensialisme demokrasi serta memperbaiki energi-energi politik yang absurd. Dan agar mendapatkan keberhasilan politik, negara pun harus mempunyai energi yang cukup tidak hanya untuk mengalahkan musuh, tapi juga untuk menyelamatkan negara dari kemandekan.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed