by

Habis Banjir Janji, kini Banjir Beneran. BMI Lamongan: Pembangunan Polder harus menjadi fokus Pemerintah Daerah

Selain dihantam pandemi, kita memasuki musim penghujan dimana menjadi sebuah momok tersendiri bagi beberapa daerah di Indonesia, tak lepas Kab. Lamongan Jawa Timur.

Hujan tak hanya sebagai tetesan air nan diselimuti oleh kenangan, namun curah hujan yang teramat tinggi menjadi sebuah bencana bagi daerah rawan banjir.

Namun tak hanya curah hujan yang selalu bisa dipermasalahkan, namun perlu adanya langkah taktis dari pemerintah daerah guna mencegah bencana di langganan banjir. Mulai dari pendalaman sungai, penguatan tanggul, sampai sosialisasi pentingnya tidak membuang sampah sembarangan.

Lamongan, lebih tepatnya Bengawan Njero yang meliputi 4 Kecamatan (Turi, Kalitengah, Karangbinangun, Deket) menjadi daerah langanan banjir tiap tahunnya. Lebih parahnya pada tahun ini ketingihan air lebih tinggi dari pada tahun sebelumnya. Hal ini memantik keresahan masyarakat akan keseriusan pemerintah daerah Lamongan dalam komitmen mengatasi banjir di Bengawan Jero.

Aliansi mahasiswa dan pemuda desa mengkaji hal ini sebagai sebuah kelambanan pemerintahan Kab. Lamongan. Mereka mengharapkan keseriusan pemerintah daerah untuk secepatnya bertindak dalam menangani bencana ini. Namun tidak hanya itu, pemerintah daerah pun harus bertindak dalam pencegahan agar hal seperti ini tidak makin parah di setiap tahunnya. “Usai banjir janji setiap pemilu, sekarang banjir beneran mas” ucap seorang mahasiswa asal Lamongan ketika saya temui di lokasi banjir.

Ini memberikan sebuah pembelajaran baik bagi Pemda Lamongan atau masyarakat. Ketika sudah seperti ini akhirnya kita tidak bisa menyalahkan salah satu, namun kita harus berjalan bersama guna mengatasi banjir ini dan memulihkan kembali baik perekonomian dan sosial.

Bintang Muda Indonesia (BMI) Lamongan setelah mengadakan kajian dan diskusi dengan struktural BMI kecamatan terdapak menyatakan bahwa ini merupakan masalah tahunan, pemda harus mencontoh negara Belanda dengan menerapkan _sistem Polder_ untuk mengontrol intensitas keluar masuk air. Jadi alasan curah hujan tinggi atau letak dan tekstur geografis yang cekung bisa diatasi dengan perencanaan yang tepat.

Polder sudah umum diterapkan di kota-kota yang rawan banjir dan hal ini akan menjadi sebuah solusi jangka panjang guna mengatasi banjir di Bengawan Njero Lamongan. Polder akan bisa menjadi sebuah tank air baik pada saat kelebihan dan kekurangan. Ini memberikan sebuah double profit karena di musim yang lain, Bengawan Njero pun sering terjadi kasus krisis Air.

Tidak hanya itu, saluran air (sungai) pun perlu ditertipkan dengan cara pendalaman dan pelebaran untuk menambah kapasitas tampung air sehingga tidak ada air yang meluber ke tempat yang tidak seharusnya.

Kesadaran dari masyarakat harus dibentuk dan dibangun guna sarana pencegahan untuk kedepan, dengan tidak membuang sampah dan menjaga kebersihan aliran sungai. Karena setiap terjadinya banjir, tidak hanya membawa air, namun juga sampah.

BMI Lamongan berkomitmen akan menjadi “Check and Balance” dalam Pemerintah. Kasus Banjir ini menjadi sebuah alarm bahwa masih banyak pekerjaan rumah bagi Pemda Lamongan. Besok Lamongan akan punya Bupati-Wakil Bupati yang baru dan dalam janji kampanyenya pun mengatakan akan menyelesaikan masalah banjir di Bengawan Njero, tugas bagi BMI untuk mengawal dan mengingatkannya.

Oleh: M. Billy Multazam
Ketua DPC BMI Lamongan

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed