by

Hilangnya Helike dan Kesalahan Manusia yang Terus Diulang

Oleh: Kenang Kelana

(Ketua Departemen Pendidikan dan Pengkaderan DPN BMI)

Di akhir abad ke-2 Masehi, Pausanias, seorang sastrawan Yunani menulis kisah pilu tentang kehancuran peradaban Helike yang sekarang kira-kira posisinya ada di wilayah Yunani. Kisahnya tidak terlalu masyhur, berbeda dengan narasi besar pradaban Atlantis yang populer dan sering diadaptasi menjadi beberapa film animasi.

Kota Helike adalah pusat kebudayaan negri ini, di dalamnya ada pemerintahan dan menjadi pusat kehidupan politik-ekonomi serta agama-kebudayaan pada masanya. Namun, kota ini hilang dan menurut riwayat Pausanias, hancur akibat gempa bumi dan menyebabkan tsunami besar. Pristiwa ini meluluh-lantahkan dan menghancurkan seluruh bangunan di atas tanah kota Helike dengan dahsyat pada malam hari.

Tentu saja, cerita di atas tidak semata-mata narasi yang dipakai untuk menghantui umat manusia di bumi atas ancaman bencana dan kerusakan, melainkan pemaknaan atas kewaspadaan dan jalinan keseimbangan antara manusia dan alam. Bukankah Sejak cerita Pausanias hingga hari ini data bencana alam ringan maupun berat sudah begitu banyak tercatat.

Seiring perjalanann waktu dan peradaban manusia, segala sesuatunya semakin kompleks. Kompleksitas ini juga terjadi antara manusia dan alam. Jika dulu ada istilah manusia ditaklukan oleh alam, belakangan, manusia menjadi jumawa di bawah jargon memanfaatkan apa yang alam sediakan (dengan berlebihan); eksploitasi.

Mewaspadai hilangnya Indonesia karena bencana juga tidak bisa semata-mata dilihat karena takdir tuhan semata. Kita bisa membaca dengan pendekatan yang lebih bisa dievaluasi secara empirik dengan melihat pola dan regulasi yang dikeluarkan oleh pemerintah atau negara dalam memanfaatkan alam.

Ada banyak laporan dari berbagai sumber yang menyebut jika keleluasaan atas eksploitasi atau pemanfaatan sumber daya alam yang ada, namuntidak diiring dengan standar AMDAL yang memadai, serta jangka waktu eksploitasi alam yang disepakati dengan investor seolah-olah tanpa batas (lihat misalnya tambang emas freeport yang sejak tahun 1960-an akhir hingga hari ini terus beroprasi dan disetujui perpanjngan kontraknya, dan masih banyak contoh lainnya).

Kekeringan (kelangkaan air), deforestasi, erosi, banjir, dan seterusnya adalah alarem bagi pemerintah untuk segera mengambil sikap bagaimana memperlakukan alam dan memberikan kesempatan untuknya memulihkan diri. Kerja ekonomi modern hari ini sudah sangat membuat alam bekerja dengan keras menghasilkan kebutuhan istimewa masyarakat bumi, tanpa misalnya diberikan kesempatan untuk bisa me-recovery ulang pasca eksploitasi.

Cara pandang kita sebagai manusia dan negara dalam hal ini pemerintah yang memiliki kekuasaan untuk mengendalikan persinggungan manusia dengan alam harus segera dirubah. Contoh kecil misalnya, ketika terjadi bencana banjir seringkali secara sepontan kita menyatakan kondisi lapangan misalnya dengan deskripsi luapan air sungai aatau laut sudah memasuki rumah warga atau wilayah pertokoan dan perkantoran.

Dari deskripsi singkat tentang bencana banjir yang biasa kita ucapkan tersebut, mari kita sama-sama refleksikan kembali, apakah benar kondisinya seperti itu. Bagaimana kalau kita balik pernyataan teebut, misalnya dengan menyatakan perumahan warga, pertokoan atau perkantoran sudah melewati batas hingga terlalu dekat dengan laut atau sungai. Sehingga membuat rusaknya ekologi dan mengakibatkan banjir terjadi.

Refleksi semacam ini harusnya bisa segera kita lakukan. Untuk itu, guna memperkecil gesekan manusia dengan alam yang mengakibatkan bencana dan seringkali merenggut korban dalam jumlah besar, sudah selayaknya kita sebagai manusia dan pemerintah sebagai pemegang kekuasaan melihat dengan pendekatan yang lebih mengedepankan kelestarian alam, dan otomatis harus diturunkan dengan menerbitkan serta menertibkan regulasi yang sekiranya berdampak buruk bagi kerusakan alam berkelanjutan.

Berhentilah mengambil keuntungan pribadi dari proses transaksi jual beli sumber daya alam Indonesia, agar kita bisa memanfaatkan sumberdaya alam dengan cara yang bijak dan demi kelestarian. Kita misalnya dibuatkan narasi anak kecil yang menyebut investasi bisa mendorong pertumbuhan ekonomi secara siknifikan. Hampir 45 tahun, sejak era Orde Baru, keran investasi dibuka lebar namun jurang kemiskinan masih dapat terlihat secara mata telanjang. Sementara kita bisa membandingkan peta hutan Indonesia yang semakin lama semakin mengecil yang justru difasilitasi oleh pemerintah melalui regulasi-regulasinya.

Semua negarabesar dan kokoh punya potensi hancur dalam waktu seketika tanpa pemberitaan alarem bencana. Seperti yang dinukil oleh Pausanias dari Yunani. Jika hal itu sama-sama ingin kita hindari, kita bisa memperkecil potensi itu dengan memperbaiki regulasi kita yang terlalu berpihak kepada investor dan komperador yang tidak bertanggung jawab.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed