by

Import dan Jargon Agrarianisme

Oleh: Qomaruddin, SE., M.Kesos

(Kepala Sekolah Bintang Muda Indonesia)

Sebagai negara agraris indonesia masih rutin dalam membuat kebijakan berupa impor bahan pokok, komoditas yang sering di impor indonesia sebagai negara agraris adalah Beras, Kedelai dan daging bahkan garampun diimpor padahal indonesia adalah negara yg memiliki panjang pantai terpanjang di dunia.

sementara pak jokowi dari mulai mau mencalonkan diri sebagai orang nomer satu di indonesia (Persiden) tepatnya pada pembukaan muktamar PKB di surabaya tahun 2014 dan masa kampanye 2014. pak jokowi dengan lantangnya mengkritik pemerintahan SBY yang masih Import padi, kedelai dan garam, dan beliau berkomitmen tidak akan impor bahan pokok. namun disaat beliau menjabat menjadi presiden Indonesia beloau malah melakuka impor dengan jumlah yang lebih besar.

Ada ketidak konsistenan dalam mengambil kebijakan. ini menunjukan antara pernyataan dan kebijakan tidak selaras. sebagai persiden kebijakanya mengalami distorsi. sehingga filososfi Indonesia sebagai negara agraris tidak muncul dalam memberikan full employment (peluang kerja) dan kesejahteraan bagi masyarakat petani yang ada di Indonesia.

Kencenderungan yang ada malah pemerintahan membuka kran secara bebas bagi para pengusaha property untuk mengkonfersi lahan pertanian menjadi perumahan. sehingga yang ada adalah bukan ekstensifikasi lahan persawahan tapi malah pengurangan lahan pertanian secara masif.

Kebijakan-kebijakan pemerintahan yang ambivalen harus di sudai, karena berakibat pada masyarakat. masyarakat petani menjadi korban dari terdampak kebijakan tersebut.

untuk itu pemerintah mestinya memnerikan perhatian lebih pada petani, agar petani mampuh memproduksi tanaman pangan secara produktif dan melimpah agar suwasembada pangan bisa terealisasi.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed