by

Jejak Pengetahuan di Tanah Yang Gersang : Catatan Perjalanan di Nusa Tenggara Timur

-Uncategorized-103 views

Oleh: Kenang Kelana Hulungo
(Wakil Kepala Sekolah Pengkaderan BMI)

NAI KOPAN atau Lai Kopan adalah asal usul nama wilayah yang sekarang disebut Kupang, Nusa Tenggara Timur. Nai Kopan adalah seorang raja di pulau Timor jauh sebelum kedatangan bangsa Portugis ke daratan ini, kiri-kira ada di abad ke 15 Masehi. Narasi tersebut diceritakan turun-temurun antar generasi di pulau ini.

Secara topografi Kota Kupang terdiri atas daerah pantai, dataran rendah dan perbukitan. Untuk daerah terendah terletak pada ketinggian 0-50 meter dari permukaan laut rata-rata, sedangkan daerah tertinggi terletak di bagian selatan dengan ketinggian antara 100-350 meter dari permukaan laut.

Daerah pantai merupakan kawasan di bagaian utara yang berbatasan langsung dengan teluk Kupang dengan kemiringan antara 0% sampai 2%, daerah dataran rendah merupakan kawasan di bagian pesisir, dengan kemiringan antara 2-5%.

Layaknya bangsa-bangsa dari timur, penduduk Kupang ramah-ramah, hangat dan terlihat akrab. Hal ini bisa ditunjukan dengan lebar senyum yang selalu menyertai disetiap perjumpaan dengan sesama, sewaktu kami, Dewan Pimpinan Nasional Bintang Muda Indonesia, mendarat di Bandar Udara Internasional El Tari, Kota Kupang.

Dengan kulit khas berwarna coklat kehitaman, gigi putih terlihat menyala-nyala seperti tanda kebahagiaan yang suci. “Kawan, dong bae-bae sa ko?” begitu sapaan awal kepada kami. Namun dibalik tanda-tanda kebahagiaan mereka, nampak juga sesuatu yang kontras. Sesuatu yang sudah lama meninggalkan mereka; kesejahteraan.

Diperjalanan, kami menemukan jamaknya sosio-kultural yang hidup di tanah ini. Beragam simbol-simbol agama, bahasa, dan istiadat bisa juga langsung dilihat. Mesjid-mesjid tua, pura, gereja dan sebagainya ada dan hidup menyala-nyala tanpa tersendat.

Alam juga memberikan kemakmuran yang sampai hari ini masih bisa dimanfaatkan untuk hajat hidup orang banyak. Meski dalam batas tertentu kita mesti curiga atau hati-hati tentang seberapa besar porsi kebermanfaatan yang dikelola pemerintahan daerah yang itu diberikan untuk penduduk lokal.

Ada salah satu tempat yang kami kunjungi, tempat itu terdapat di pesisir wilayah Kabupaten Kupang. Berbentuk Gua (goa) yang di dalamnya terdapat sumber mata-air bernama Gua Kristal. Untuk sampai kesana pengunjung akan disajikan jalan setapak yang tajam, bukan karena medannya yang curam, namun karena lapisan tanahnya muncul karang-karang batu yang keras.

Benar, ada karang yang menghiasi jalan setapak kami menuju lokasi, dan banyak rumah penduduk lokal yang memanfaatkan itu sebagai pagar pembatas rumah mereka masing-masing. Teman-teman BMI, DPC Kota Kupang, menjelaskan bahwa tradisi lama masyarakat sini memanfaatkan karang yang bersebaran di sini sebagai salah satu bahan infrastruktur pembuatan rumah.

“kalo mau lihat arsitektur lama masyarakat sini ya yang seperti ini, rumah berpagarkan karang.” Begitu kira-kira lontaran-lontaran kalimat dari sahabat BMI DPC Kota Kupang yang asli penduduk sini.

Sesampainya di pintu pembatas wisata, kita disambut oleh penjanga yang siap mengantar kami menuju lokasi. Di 200 meter perjalanan menuju Gua, sang penjaga banyak menjelaskan pengetahauan lokal yang begitu kaya di dataran gersang ini.
Anasir tentang kekeringan, yang menjadi satu dua perbincangan dengan penjaga tadi seolah-olah menjadi gugur Ketika kami sampai ke tempat sumber air itu.
Penjelasan pun berlanjut tentang sambungan mata air yang sebenarnya masih bisa dieksplorasi lebih lanjut. Sehingga nampak, frame tentang sulit air menjadi patah dengan kenyataan kenyataan sumber daya alam yang kaya dan memukau ini.

“Sang pencipta sudah menyediakan lahan-lahan yang subur, matahari yang cukup dan mata-air yang melimpah untuk kita, meski terkadang ia tersimpan tak kasat mata. Manusia wajib berikhtiar, berusaha menemukan rahasia Tuhan itu dengan bekerja, memanfaatkan pikiran, tenaga dan rasa (hati).” Begitu ekspresi Ketua Umum BMI, Farkhan Evendi ketika pertama bisa melihat sumber mata-air di Gua Kristal Bolok ini.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed