by

Kerusakan Ekologi dan Krisis Kesalehan Sosial

Oleh : M. Shafei Pahlevi

Ketua BMI Kabupaten Tegal
Pegiat Komunitas Budaya dan Spiritualitas

Beberapa kejadian bencana alam seperti halnya banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia akhir-akhir ini selalu tak luput dari sorotan mengenai dampak prilaku umat manusia. Kecenderungan manusia untuk memuaskan berbagai macam kebutuhan hidupnya seringkali tidak mengindahkan keselarasan ekologis dan kearifan sosial. Atas nama menjaga kelangsungan eksistensi kehidupan manusia justru merusak fitrahnya sendiri sebagai “khalifah” yang seharusnya bertugas merawat dan memelihara alam kehidupan di muka bumi.

Manusia yang kehilangan koneksi dengan fitrahnya akan mendesakralisasi alam dan manusia itu sendiri. Ia memandang rendah alam dan mengambil jarak dari alam. Pola hubungannya dengan alam adalah eksploitatif dan merusak, dan akhirnya justru menciptakan suatu dunia baru yang terasa asing bagi manusia yang fitrah. Manusia kemudian mengalami gelombang krisis dan keterasingan yang muncul dari riak-riak selera hidup dan pemuasan dirinya dengan cara menganiaya sumber daya alam, dan menjadikannya sebagai obyek bagi seluruh kebutuhan primitifnya.

Eksploitasi sumber daya alam demi pemenuhan hasrat hidup manusia telah menimbulkan dampak buruk berupa kerusakan ekologi. Pengembangan sains yang tidak disertai wawasan spiritual dan cenderung materialistis menyebabkan malapetaka berupa rusaknya keseimbangan (equilibrium) di jagad raya ini. Tentu saja hal tersebut sangat mengancam eksistensi kehidupan manusia baik di masa sekarang maupun yang akan datang.

Dengan demikian krisis ekologi sejatinya sebagai manifestasi krisis kesalehan sosial. Ekologi itu sendiri diartikan sebagai kehidupan yang di dalamnya terdapat keharmonisan hubungan dan kesatuan manusia dengan unsur-unsur kosmologinya. Karena itu hubungan manusia dan alam sesungguhnya bukan merupakan penaklukan, tetapi bertujuan untuk menciptakan interaksi harmonis dan kebersamaan dalam membentuk suatu kehidupan sosial yang sehat, humanistik dan ekologis yang mengharuskan adanya keseimbangan dalam diri manusia secara pribadi dengan orang lain, dan antara manusia dengan alam.

Manusia sebagai makhluk yang mendominasi alam bumi ini harus mampu mengubah sikap destruktif terhadap lingkungan menjadi sikap bersahabat dan hubungan yang sehat. Manusia juga harus mampu memahami perwujudan alam raya ini sebagai sesuatu yang sakral dan bagian dari bentuk kearifan Tuhan.

Seorang ahli fenomenologi agama, Annemarie Schimmel, menyatakan bahwa alam ini sesungguhnya sebuah buku besar di mana mereka yang mempunyai mata untuk melihat dan mempunyai telinga untuk mendengar dapat menemukan tanda-tanda Tuhan. Ia mengutip ayat Al-Qur’an yang artinya: “Kami perlihatkan kepada mereka tanda-tanda kekuasaan Kami di segenap penjuru alam dan pada diri mereka sendiri.” (QS Fushilat : 53).

Dia menyebut ada begitu banyak pesan Al-Qur’an yang terkait hubungan manusia dan alam. Sehingga ia berkesimpulan bahwasannya seluruh alam yang tak bernyawa seperti tanah, bebatuan, gunung-gunung, air, api dan angin sejatinya adalah instrumen yang membantu manusia dalam mentrandensikan dirinya dengan Sang Pencipta. Begitu pula alam bernyawa seperti pepohonan dan binatang.

Tuhan sangat mengecam tindakan perusakan di bumi, sebagaimana tertuang dalam surat Asy-Syu’araa : 151-152 yang artinya: “Dan janganlah kamu mentaati perintah orang-orang yang melewati batas, yang membuat kerusakan di bumi dan tidak mengadakan perbaikan.” Juga dalam surat Ar-Rum ayat 41 yang artinya :“Telah Nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Seorang individu yang bersikap eksploitatif-destruktif terhadap sumber daya alam akan mengalami nestapa jiwa dimana orientasi hidupnya hanya berkutat pada pemenuhan hasrat dan kesenangan duniawi yang bersifat profan dan semu. Kekuatan dalam jiwanya kehilangan keseimbangan karena jiwa rasional atau ruh murninya dicampakkan demi pemuasan jiwa vegetatif dan jiwa hewannya.

Ciri-ciri hewani akan menguasai dirinya yang rendah berupa keserakahan, kemarahan, kebuasan, kerakusan, kecenderungan untuk menebar kebencian, saling berperang dan menumpahkan darah, serta berbagai kecenderungan lainnya yang membuat manusia lupa akan asal-usul surgawinya, juga hubungannya dengan dunia ruh. Manusia terjerembab menjadi ‘yang paling rendah di antara yang rendah’ atau asfal as-safilin (QS At-Tiin : 5).

Oleh karena itu, upaya besar memperbaiki ekologi yang sudah terlanjur rusak itu kembali kepada kesadaran fitrah yang dimiliki umat manusia itu sendiri. Secara kodrat manusia itu dianugerahi kesadaran moral, dan untuk kembali kepada kesadaran tersebut tentu bergantung pada kehendak dan kemauan untuk berubah menjadi lebih baik. Banyak di antara kita yang seolah sibuk mencitrakan kesalehan personal, tapi mengabaikan kesalehan sosial yang memanifestasikan semangat keberpihakan.
Terkait upaya menjaga kelestarian ekologi pemerintah telah menetapkan berbagai macam regulasi, dan hal ini tentu membutuhkan dukungan kesadaran masyarakat untuk ikut berperan serta. Selain itu juga meniscayakan adanya ketegasan dan konsistensi aparat penyelenggara negara dalam mengawal pelaksanaan regulasi-regulasi tersebut. Apalagi mengingat bahwa mayoritas masyarakat Indonesia itu merupakan kumpulan umat manusia beragama, di mana perintah menjaga kelestarian ekologi itu termaktub jelas dalam ajaran-ajaran agama. Bahkan dalam ajaran Islam dinyatakan bahwa ikhtiar menjaga kelestarian ekologi itu termasuk kategori “Jihad Hifdzul Bi’ah” (perjuangan suci menjaga lingkungan hidup). ***

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed