Kesaktian Pancasila untuk Masa Depan

Lency Pramono
Ketua Departemen Kajian dan Opini Publik BMI

Kesaktian Pancasila adalah momen yang dijadikan hari nasional di Indonesia. Ia diperingati setiap 1 Oktober sesuai dengan Keputusan Presiden Nomor 153/Tahun 1967. Kelahiran hari Kesaktian Pancasila ini terjadi setelah Gerakan Satu Oktober atau yang lebih populer dikenal sebagai G30S/PKI. Dimana pada pristiwa ini, enam jenderal serta beberapa orang lainnya dibantai sekelompok orang yang menurut otoritas militer saat itu dilakukan oleh partai komunis Indonesia.

Lebih dari sekian puluh tahun, hasil riset dan penelitian kontemporer atas pristiwa itu mengungkap banyak hal, dari keterlibatan internal angkatan darat, lembaga asing dan yang tidak bisa dinafikkan adalah keterlibatan pentinggi-petinggi Partai Komunis Indonesia (PKI).

Pristiwa berdarah itu sudah menewaskan tujuh anggota terbaik Tentara Republik Indonesia. Ketujuh orang itu adalah Jenderal TNI (Anumerta) Achmad Yani, Letjen (Anumerta) Suprapto, Mayjen (Anumerta) MT Haryono, dan Letjen (anumerta) Siswondo Parman. Lalu Mayjen (Anumerta) DI Pandjaitan, Mayjen (anumerta) Sutoyo Siswomihardjo, serta Letnan Satu Corps Zeni (Anumerta) Pierre Andreas Tendean. Kala itu, PKI menuduh para jenderal tersebut akan bertindak makar terhadap Sukarno melalui Dewan Jenderal.

Kolonel Untung, yang menjabat sebagai Komandan pasukan Cakrabirawa, pengawal khusus Presiden, berhasil melakukan oprasi pada malam tanggal 30 September 1965. Usai menculik dan membunuh enam jenderal dan satu perwira pertama, pasukan Letkol Untung keesokan paginya berhasil mengambil alih Radio Republik Indonesia (RRI) dan menyebarkan propagandanya. Akan tetapi, perampasan itu hanya terjadi selama kurang dari satu hari, lantaran Kostrad mampu merebut kembali RRI. Selanjutnya, jenazah Ahmad Yani, beserta enam orang lainnya diketemukan di Lubang Buaya. Selama lima hari, pemberontakan berhasil diredam. Di bawah perintah Mayjen Soeharto, sisa-sisa pemberontak diburu ke seluruh penjuru, termasuk Aidit yang diduga otak Gerakan 30 September atau disingkat G30S.

Penamaan Kesaktian Pancasila dimaknai dan pada akhirnya menjadi bukti sejarah yang harus selalu diperingati dengan hal-hal yang, mestinya, substansif dan juga simbolik seperti upacara dan sebagainya. Upacara Hari Kesaktian Pancasila dilakukan sebagai wujud untuk mengenang dan menghormati para korban pembunuhan yang kemudian diberi tanda jasa menjadi pahlawan revolusi.

Kemudian pemerintah Orde Baru menetapkan 30 September sebagai Hari Peringatan Gerakan 30 September. Sedangkan 1 Oktober sebagai Hari Kesaktian Pancasila. Pancasila memiliki kesaktian yang tidak dapat tergantikan oleh paham apapun.

Seperti yang diungkapkan Ketua Umum Bintang Muda Indonesia (BMI), Farkhan Evendi, bahwa Hari Kesaktian Pancasila mengandung sebuah makna penting tentang lonceng pengorbanan manusia Indonesia untuk Pancasila. Semua orang berkabung dan tidak hanya tentang ‘berduka’ akan tetapi makna tersirat yang harus dipahami yaitu Pancasila menjadi hal prioritas dalam bernegara. Ketika ada pengkhianatan maka harus segera diselesaikan dan ditindak tegas.

Kekuatan anti Pancasila atau berbagai pemberontakan, perlu disikapi dengan pemahaman kesejarahan yang bersifat rasional, bukan dengan irasionalitas keyakinan saktinya Pancasila. Ketika kita melihat ini Pancasila tidak total dijalan sebagai pedoman sosial kehidupan di Indonesia. Maka kedepan harapannya kita ini bisa menjadikan ideologi yang bisa direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Demikian hal-hal sederhana supaya bisa menjadikan negara ini adil dan makmur. Pancasila inilah mata tombak penting untuk mensejahterakan bangsa dan negara ini. Masyarakat Indonesia harus bisa merasakan nikmat kesejahteraan, nikmat berkumpul (bernegara) dan semangat membangun negara ini dengan lebih maju dan lebih baik.

Check Also

Ada Apa dengan Amerika?

Oleh: Andi Mallarangeng Beberapa hari ini banyak kawan bertanya kepada saya: Apa yang terjadi dengan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *