by

“KPK Dan Nasib Pemberantasan Korupsi Di Indonesia”

Oleh. Farkhan Evendi

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) adalah sebuah lembaga yang awalnya memiliki sistem bekerja dengan baik, yang terdiri dari beberapa komisioner, ada penyidik dan seterusnya. Tapi akhir-akhir ini KPK mengalami degradasi sistem.

Dengan adanya lembaga ini sebenarnya kita semua berharap sistem KPK yang berjalan selama ini dapat terus diterapkan di masa periode kedua Jokowi

Namun ada beberapa hal yang membuat KPK terlihat tak berkutik dan terkapar lemas :

Pertama, KPK dalam internalnya tidak solid dan saling serang, misal antar pegawai KPK dan pimpinannya. Seharausnya apabila sebuah lembaga atau organisasi akan berjalan dengan baik dan benar hubungan batin antara pegawai dan pemimpinnya harus selalu hangat.

Kedua, Yang dilawan oleh sistem KPK saat ini adalah kasus-kasus yang kelewat kuat yang dihadapi oleh KPK, disitu KPK alami kegoyahan.

Ketiga, Ini adalah rentetan dari pelemahan yang dialami KPK pada periode kali ini dengan oligarkhi yang mengalami penguatan luar biasa hingga masuk DPR dan menyebabkan pemilihan komisioner KPK sangat politis dan nilai politiknya semakin besar

Keempat, ini juga bagian dari akibat luar biasa dari revisi RUU KPK

Kelima, adanya pimpinan DPR Azis Syamsuddin yang ditarget dan bisa jadi jaringan yang dimiliki Azis ikut serta membantai KPK agar pendarahan kasusnya berhenti.

Keenam, Politisasi pada pilpres dimana salah satu penyidik yang berintegritas yaitu Novel Baswedan adalah saudara dari salah satu kandidat pilpres yang menguat di survey-survey yaitu Anies Baswedan

Ketujuh, Jokowi sebagai pemimpin utama negeri ini ikut tak berdaya dengan rongrongan internalnya untuk memenggal leher dan menekan pundak KPK dan kini menuju jantung KPK diakibatkan meledaknya kasus-kasus besar dilingkaran Jokowi.
Disini bisa dilihat bahwa enggannya Jokowi membela KPK dikarenakan Jokowi sudah merasa kuat walau tanpa citra ikut menjaga KPK akibat bisikan lingkarannya

Kedelapan, tidak kompaknya masyarakat sipil dalam membela KPK dalam gelombang yang besar, disamping faktor lain yang tak bisa disalahkan adalah terpecahnya konsentrasi diakibatkan masih banyaknya kasus-kasus lain yang perlu diadvokasi misal kasus HAM dan sebagainya.

Kesembilan, penguasa parlemen yang berisi 7 Partai Pendukung Pemerintah ikut serta menyeret pelemahan KPK terutama sejak awal isu revisi UU KPK.

Kesembilan faktor ini adalah beberapa hal sistematis yang menjadi garis besar hilangnya ruh pemberantasan korupsi di KPK

Kami mengkhawatirkan pesta oligharki dan korupsi di bansos, tambang, suap/gratifikasi dan lain-lain semakin mewabah diperiode kedua dan hari-hari esok tak akan lebih baik dan tak tertolong.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed