Mengurai Konflik, Membangun Tenggang Rasa

Sentimen antar anak bangsa yang terjadi saat ini seolah memberi kabar akan memudarnya hubungan kita dalam bermasyarakat, sentimen tersebut muncul banyak disulut karena keyakinan yang selama ini kita jalani mulai diperdebatkan kembali di publik, selain itu politik tanpa akhlak mulia, tanpa fairness dan justice membuat masyarakat saling mencibir, menghujat dan mendiskreditkan satu sama yang lainya, bully membully saling dilontarkan antar mereka di publik seolah sejarah kita tidak pernah memberi pelajaran bahwa kemerdekaan ini diraih karena persatuan dan kesatuan. Baik kesatuan nasib, kesatuan cita-cita, kesatuan untuk bersama, kesatuan untuk hidup damai, rukun dan sejahtera. Namun karena hanya kekuasaan dan politik kita menjadi tidak adil, tidak jujur dan tidak beradab. Kalimat adil, jujur dan, beradab apabila tidak implementatif maka yang ada adalah destruktif dalam pranata sosial.

Keprihatinan publik pada kondisi warga negara yang saling mengejek, membully, mencibir, mencaci membuat NKRI menjadi  muram dan rapuh. Seolah ibu pertiwi tidak memberikan kasih sayangnya dan simpanan kekayaan berupa hutan, gunung, sawah, dan lautan pada anaknya, pada penghuninya dan pada yang berpijak diatas nya. Simpanan kekayaan bukanlah untuk diperebutkan dan diperdebatkan tapi dikelola semata-mata demi kepentingan rakyat. Simpanan kekayaan bukan untuk kepentingan pera elit politik apalagi para pemuja kekuasaan, tapi demi kesejahteraan masyarakat yang adil dan beradab.

Jika kita melihat lebih teliti lagi selain perbedaan pandangan dan keyakinan. ketidak adilan sosial, ekonomi dan politik menjadi penyumbang utama perpecahan  diantara anak bangsa ini. Kehangatan antar anak bangsa mulai tercabik-cabik karena distrust yang terjadi pada diri anak bangsa ini. Nilai nilai luhur bangsa sekarang luntur karena politik dan tatanan yang dirasa tidak adil- tidak jujur, dan tidak beradab. Nusantara yang duluh bersatu, berkeadilan dan ber kejujuran dalam naungan Pancasila  kini menjadi robek karena ulah para antagonisme, aportunisme, dan para pragmatisme. benih-benih disparitas dinegeri ini mulai bermunculan diantara anak negeri zamrud khatulistiwa. Para influencer yang seharusnya menyampaikan kebenaran dan berita obyektif kini malah menjadi triger utama terjadinya perpecahan, berkomentar yang tidak logis, tidak berkualitas dan cenderung menyudutkan (bullying). Prilaku tersebut  jau dari norma-norma kehidupan berbangsa dan bernegara. Perilaku influencer ini sangat tidak mendidik bagi anak negeri ini.

Apabila kita mengutip teori kekerasan  dan konflik yang dibangun oleh Erich Formm bahwa munculnya sifat sentimen manusia atau destruktif pada seseorang terjadi apabila keinginan untuk berkembang atau hasrat untuk berekspresi ditekan atau dikekang oleh kekuatan lain. Maka hasrat destruktif seseorang akan muncul. Kemunculan hasrat destruktif  bukan hanya tergantung pada faktor internal diri seseorang, melainkan juga pada situasi dan kondisi yang memberi setimulan pada manusia sehingga sifat kedestruktifanya teraktualisasi. untuk itu menjadi kurang tepat bila lorens mengatakan bahwa agresi adalah satu-satunya bentuk reaksi yang muncul karena sifat bawaan atau tabiat manusia. Artinya dalam alam demokrasi justice dan fairness harus betul-betul diaktualisasi dan kebebasan berpendapat dan berekspresi juga harus dilindungi agar masyarakat bisa hidup tumbuh dan berkembang saling menghargai, saling bergandengan dan saling menjaga tenggang rasa.

Fromm juga menegaskan, bahwa yang menjadi penyebab agresi manusia muncul tidak cuma pada faktor internal manusia sendiri namun juga karena rusaknya struktur sosial dan ikatan sosial murni. Di lain pihak, perilaku agresi muncul juga karena kondisi sosial, psikologis, ekonomi, budaya dan politik yang tidak adil, tidak jujur, tidak amanah dengan apa yang sudah di serahkan oleh masyarakat pada penguasa. Artinya bahwa pemerintah terbentuk karena rakyat telah menyerahkan sebagian kepercayaannya kepada pemerintah. dalam arti lain, basis legitimasi pemerintah adalah rakyat bukan yang lain. Demikian pula pemerintah tetap akan diakui legitimasi kekuasaannya selama ia tidak menyalahi kepercayaan yang diberikan masyarakat. Penting sekali pemerintah peka terhadap suara rakyat, terhadap kebutuhan masyarakat. Agar masyarakat tetap kuat dalam memberikan legitimasi pada pemerintah.

Untuk mengatur bangsa sebesar ini dengan berbagai macam keragamanya memang tidak mudah, untuk itu butuh leadership yang unggul, mumpuni, cerdas, dan berkapasitas tinggi serta bersifat jujur, adil, dan amanah. Dalam kontek kerapuan yang terjadi pada wajah sosial negeri ini, selain berkeadilan dan jujur serta amanah pemerintah harus bisa mencari problem solving yang tepat dalam rangka menyudai perpecahan agar tidak semakin melebar. Penting kondisi kondusif dalam mensuport bekerjanya pemerintahan. Agar pemerintah fokus dan berkualitas dalam mejalankan roda pemerintahannya. Dalam pandangan webster (1966) konflik merupakan ketidak sepakatan yang tajam mengenai sesuatu baik ide maupun lainya diantara kelompok yang ada. Agar suatu konflik bisa diatasi pemerintah harus mampuh mengidentifikasi akar masalah dan menentukan problem solvingnya. Sudah terlalu lama masyarakat dihadapkan dengan situasi yang tidak kondusif, kelompok satu dihantamkan dengan kelompok yang lainnya. Kondisi seper ini tidak justifaid, dan harus segera diakhiri

Sebagai pemilik kuasa tertinggi pemerintah harus mengintervensi  agar situasi yang tidak kondusif ini berhenti sampai pada tingkat saling rekonsiliasi, saling memahami, menghormati saling menciptakan tengang rasa dan gotong royong. Nilai-nilai luhur bangsa ini harus diaktualisasikan kembali dalam kehidupan sehari-hari. Agar kemanusiaan kita hidup secara adil dan beradab.

Penulis:  Qomaruddin SE. M.Kesos Pengurus DPP PD dan DPN BMI

Check Also

Ada Apa dengan Amerika?

Oleh: Andi Mallarangeng Beberapa hari ini banyak kawan bertanya kepada saya: Apa yang terjadi dengan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *