by

MENSINAUI RADIKALITAS TETUMBUHAN

Farkhan Evendi
(Ketua Umum Bintang Muda Indonesia)

Alangkah bahagia mereka yang pernah mengalami peristiwa bercocok tanam. Bertani, berladang, berkebun serta “ber-ber” sejenis lainnya, menurutku, merupakan peristiwa igama sekaligus agama. Itulah sebabnya kukatakan bahagialah mereka yang pernah mengalaminya. Kendati saat ini value-nya mungkin saja telah berubah atau paling tidak bergeser, pada kenyataannya tidak semua orang pernah memiliki pengalaman serupa.

Apa yang baru saja ku ungkap ini sangat harus diragukan serta tidak dipercaya. Baik oleh siapa saja yang pernah bertemu serta mengenaliku, maupun oleh yang tidak sekalipun pernah bersua apalagi mengenal diriku. Jadi siapapun itu terlebih dahulu harus meragukan, memeriksa untuk kemudian menarik kesimpulan dari apa yang ku ungkap, apakah layak dipercaya ataukah justru malah harus tidak dipercaya sama sekali. Dalam dunia akademis alias ilmiah, hal ini disebut sikap apatis, skeptis serta kritis. Bagi seorang akademisi, sikap apatis, skeptis serta kritis merupakan syarat “mutlak” terhadap hadirnya obyektivitas keilmuan. Misalnya, seseorang yang dianugerahi gelar akademis sebagai profesor, tentulah ia yang sangat menjunjung ketiga sikap ilmiah tadi.

Mungkin karena berbekal “kuda-kuda” berupa sikap apatis, skeptis serta kritis, seorang kawan yang datang tanpa diundang secara langsung menyerangku dengan “kembangan” penuh variasi. “Apa alasannya kau katakan bertani, berladang dan berkebun itu merupakan peristiwa igama sekaligus agama?”, sergahnya sebat kepadaku.

Aku yang bukan pendekar serta sama sekali tidak pantas dianggap pandayakira ini sontak terperanjat seketika. Sebenarnya aku lebih pas menyebutnya terperangah, bukan terperanjat. “Ehh.. dari mana kau dengar aku ngomong gitu..”, jawabku singkat meneruskan, “nanti sajalah kita bicarakan, aku mau memesan…”, belum sempat kalimatku berujung, tiba-tiba sudah ada yang menyela.

“Rokok dan kopi itu perkara gampang, bang. Yang penting jelaskan dulu, mengapa abang menduga values yang dianut umat manusia saat ini terkait bercocok tanam telah berubah atau paling tidak bergeser”, ujar seseorang yang berdiri di belakangku menimpali.

Tanpa menjawab sepatah katapun, aku hanya manggut-manggut mengiyakan. Toh tidak mengapa juga mengiyakan apa yang dikatakan orang, mungkin ini lebih baik, gumamku dalam batin.

Selanjutnya kami bertiga terlibat obrolan panjang di warung kopi yang tempat duduknya beralaskan tikar. Hanya saja demi tulisan ini, obrolan panjang tersebut terpaksa harus kupersingkat. Kalaupun anda yang membaca enggan memaklumi, tidak mengapa bagiku.

“Sebelum aku mengomentari pertanyaan kalian berdua, tolong beritahukan dahulu dari mana kalian dengar aku ngomong seperti yang kalian maksudkan”, ucapku pelan memulai pembicaraan secara perlahan.

“Aku dapat infonya dari pesan berantai yang tiba-tiba saja ada salah seorang kawan mengiriminya via wa kepadaku. Setelah kubaca, aku jadi tahu kalau yang menulis itu kau. Maka aku perlu kejelasan. Kebetulan aku sedang lewat sini dan kulihat kau baru saja masuk ke warung kopi ini. Ya sekalian saja aku klarifikasi”, jawab sipenanya pertama dengan lugas.

“Kalau aku dapatnya dari flyer yang dijadikan status atau story wa seorang kawan kerja, bang. Aku sempat tanya dari mana kau dapat flyer itu. Ia menjawab dari keponakannya. Begitu ceritanya, bang”, jawab sipenanya kedua tanpa menunggu dipersilahkan.

Sesaat setelah kuseruput kopi di gelas yang tersaji di hadapan, kupandang sekilas wajah mereka. Ah, ternyata mereka memang menyimpan segudang tanya. Entah itu karena belas iba, kasihan atau yang lainnya aku tak mengerti. Yang pasti niat mereka berdua baik. Dan itu bagiku sudah cukup untuk kami bertiga melingkar bersama.

Mungkin aku-engkau pernah mendengar kisah Adam-Hawa yang “terbuang” dari surga hanya karena keinginan mengambil lalu memakan buah Khuldi yang tumbuh menggelantung di ranting pohon yang rindang. Aku-engkau sangat boleh mengesampingkan tindakan Adam-Hawa itu merupakan hasil agitasi, propaganda, provokasi, serta sabotase Sang Banujan.

Aku-engkau juga mungkin sekilas mendapati kisah Idris yang sengaja meninggalkan “terompah”-nya di surga. Sebab itu ia mempunyai alasan kembali ke surga untuk mengambil tidak hanya “terompah”-nya, tetapi juga demi memungut perbekalan tulis-menulis sehingga tradisi literasi menjadi sesuatu yang kelak diakrabi oleh umat manusia. Aku-engkau boleh-boleh saja mengaitkan sosok Idris sebagai Hermes. Yang dari kata itu muncul istilah hermeunitika.

Aku-engkau mungkin juga sering mendengar kisah Nuh yang merakit “gelondongan kayu-kayu” sangat besar yang berasal dari hutan belantara menjadi bahtera. Aku-engkau pun boleh menduga-duga hutan belantara tersebut berada di negeri katulistiwa. Sehingga menjadi sangat tidak mungkin parawamsa yang bermukim di tlatah Samarabhumi itu tidak mengenali teknologi perkapalan.

Aku-engkau pun mungkin sudah mendengar kisah Ibrahim yang harus menjalani hukuman dibakar hidup-hidup di atas “tungku kayu” yang apinya menyala berkobar-kobar. Aku-engkau juga boleh-boleh saja memeriksa apa yang menjadi sebab mengapa ia harus dihukum demikian, serta darimana pula asalnya kayu-kayu tersebut.

Aku-engkau barangkali juga sudah pernah diceritakan ketika Musa yang tengah mengorganisir kaum tertindas untuk menyeberangi lautan, ia malah terdera sakit perut yang luar biasa perihnya. Ia kemudian diperintah harus ke dataran tinggi mencari “semacam dedaunan” untuk dimakan. Sakit perutnya seketika pulih. Setelah itu ia kembali ke dataran rendah menemui kaum tertindas yang menantinya. Saat itulah sakitnya kambuh. Ia pun segera kembali ke bukit mencari dedaunan yang sama lalu memakannya beberapa helai, tetapi sakitnya tak kunjung sembuh. Aku-engkau pun boleh-boleh saja memastikan kisah barusan tidak lebih penting ketimbang narasi mengenai Musa bersama kaum tertindas yang eksodus dari kejaran Fir’aun serta balatentaranya.

Sebagai “lambaran” cukuplah kiranya bagi aku-engkau untuk belajar mempelajari bila kisah-kisah tadi memiliki paralelitas terhadap apa yang dipersoalkan oleh kedua penanya. Bukankah igama merupakan hubungan antara manusia dengan Tuhan-nya masing-masing. Dan, agama adalah hubungan antara manusia dengan manusia lainnya, serta hubungan antara manusia dengan alam sekitarnya. Igama maupun agama perlu dan memang harus ada bagi umat manusia demi terjalinnya keseimbangan kosmis. Cuma keduanya saat ini kurang “dibutuhkan” oleh umat manusia. Sehingga tidak mengherankan bila masih banyak orang yang mencari tahu alasan mendasar mengapa bercocok tanam itu merupakan peristiwa igama sekaligus agama.

“Sebentar bung, tadi itu kau hanya cerita tentang Adam-Hawa, Idris, Nuh, Ibrahim dan Musa. Kau sepertinya agak mengesampingkan Sidharta Gautama dengan pohon Bodhi-nya, atau Jesus of Nazareth dengan kayu salib-nya. Apakah itu hanya karena berdasarkan sudut pandang-mu semata?”, ujar sipenanya pertama yang dari tadi hanya diam menyimak tiba-tiba menukas.

“Aku bukannya mengesampingkan Sidharta Gautama dan Jesus of Nazareth. Keduanya merupakan manusia agung (the Great Man) yang aku hormati serta kagumi. Aku malah belajar dari keduanya. Justru aku sedang memantik kalian berdua agar merespons yang sudah diulas barusan. Aku dapat saja menukil perihal pohon/buah Thin dan Zaitun. Aku juga mampu menutur kisah Timun Mas, atau bagaimana jumawanya Attila the Hun terhadap rumput ilalang dlsb, namun apakah kalian mau berlama-lama mendengar dongengan yang tak bermutu ini?”, jawabku sekenanya saja.

“Okelah bang, sementara aku benarkan. Cuma yang jadi soal bagiku, bagaimana abang dapat menduga values yang dianut umat manusia saat ini terkait bercocok tanam telah berubah atau paling tidak bergeser? Dari tadi abang belum ada kudengar menjelaskan soal itu”, ungkap sipenanya kedua menguberku karena menurutnya aku seperti melupakan pertanyaannya.

“Oh itu ya. Baiklah. Sebelum terlalu jauh kau menganggap aku lupa, terpaksa namun dengan senang hati aku mengajakmu kembali mengulik-ulik tentang hierarchy value, instrumental value, contributive value, instrinsic value, dan ultimate value. Kalau masih juga kurang jelas mengenai 5 (lima) perihal makna value tadi, berkunjunglah kau ke pulau Madura. Disana aku sudah titipkan penjelasan itu kepada beberapa orang”, ucapku menimpali.

“Jangan begitulah bung. Jika enggan mengomentari tak pula kau harus nyuruh-nyuruh dia ke Madura. Ah kau ini, ada-ada saja!”, sergah sipenanya pertama.

“Tidak masalah, bang. Dalam waktu dekat ini, aku ada niat juga ke Jawa Timur, ya sekalian mampirlah ke Madura”, bantah sipenanya kedua.

“Tuh, kau dengar sendiri toh apa yang kubilang barusan tak jadi soal baginya. Ngapain juga kau yang sibuk?”

“Hehehe… Aku bukan sibuk, apalagi sok perhatian. Aku heran saja, mengapa hanya untuk mendapat penjelasan itu ia harus kesana.”

Rupa-rupanya di saat aku dan sipenanya pertama disibukkan ngobrol ngalur-ngidul kesana kemari, sipenanya kedua diam-diam menganalisa sendiri perihal yang ditanyakannya tadi dengan perangkat value yang memang pernah ia pelajari.

Seingatku ada tutur kata begini, tempora mutantur et nos mutamur in illis; waktu itu bergulir dan kita (manusia) ikut bergeser/berubah di dalamnya. Hhmm… Jauh sebelum bercocok tanam dilakoni manusia sebagai komoditi, industri serta kapitalisasi, ia merupakan sesuatu yang sakral. Mungkin mitologi Dewi Sri yang banyak dipuja dan dipercaya sebagai “Dewi Pemberi Kesuburan Lahan Pertanian” oleh orang-orang yang bertempat tinggal di kawasan nusantara (baca: Asia Tenggara) dapat dikedepankan menjadi data yang layak diteliti. Ritual pemujaan terhadap Dewi Sri ini secara numena termasuk ultimate value. Sehingga bagi manusia, bercocok tanam itu merupakan sesuatu yang bersifat sakral.

Sementara itu fenomena penghormatan manusia terhadap tetumbuhan sebagai sedulur sinarawedi bagi kehidupannya adalah wujud nyata dari instrinsic value. Maksudnya begini, secara linguistik sedulur itu saudara, sinarawedi adalah karib (akrab/terdekat). Jadi tetumbuhan itu meskipun bukan saudara kandung, saudara tiri, saudara seperguruan, ataupun “saudara sepersusuan” dan saudara-saudara lainnya, ia adalah saudara karib (akrab/terdekat) bagi manusia. Ia tak pernah sekalipun mengeluh, melenguh, mengguggat manusia yang mencocoktanami dirinya. Bahkan meski tanpa keberadaannya manusia pasti mati, binasa dan punah, ia tetap lila legawa diperlakukan bagaimana saja oleh manusia. Itulah mengapa tetumbuhan dianggap sebagai saudara karib (akrab/terdekat) bagi manusia. Masih tak percaya? Silakan tak usah makan asupan yang berasal dari tetumbuhan selama 50 tahun. Pun, kau sah-sah saja secara regulasi memperbanyak hutang demi ini demi itu, asalkan kau sanggup tak makan maka diperkenankan bagimu memutus persaudaraan dengan tetumbuhan. Jadi, hormatilah para petani, peladang, pekebun sejati.

Sedangkan secara faktual, pernah ada era dimana seseorang yang hanya menjadi petani, peladang dan pekebun adalah mereka yang dianggap adiluhung. Sehingga parawarga menjadikan mereka panutan yang senantiasa dimintai pendapat. Bila terjadi ahengkara durja (baca: masalah pelik) pada dimensi tatakrama, tatanagara dan tatasusila yang kelewat batas, mereka akan gugur gunung, turun gunung memperbaikinya sesuai arahan Sang Hyang pemilik sejati satata saganantara. Era itu ditandai dengan sanggar, mandala, sima, perdikan, padepokan, manggala dlsb. Ketika mereka masih di berbagai tempat tadi dan belum turun gunung, mereka dikenali sebagai petani, peladang, pekebun. Maka, saat mereka turun gunung, mereka disebut pandayakira. Orang kekinian menyebutnya, pendekar! Menurutku, inilah contribute value yang ada pada kehidupan manusia dalam kaitannya dengan bercocok tanam.

Yang tidak begitu sulit adalah melacak kenyataan dimana bercocok tanam bagi manusia hanya sebatas instrumental value. Kalau masih ragu, cobalah periksa daftar atau list jargon kampanye orang-orang yang hendak mengacungkan diri menjadi kepala pemerintahan, dari kepala desa hingga presiden. Tentu dengan mudah kau akan menemukannya. Atau jika kau khawatir dianggap subversif, maka cukuplah kau simak baik-baik lirik lagu, buruh, tani, mahasiswa kaum miskin… Hanya sebatas lagu yang kau kumandangkan dengan gagah saat kau turun ke jalan memanggul toa. Berteriak tentang perubahan penuh dengan kata-kata tanpa makna, apatah lagi mantra pelipur lara. Tersenyumlah bila kau pernah alaminya. Besok-besok bila ada kesempatan akan kusediakan cangkul dan karambit agar kau mau memapahnya. Bila masih kau anggap kurang, silakan diperpanjang seterusnya.

Adapun yang paling gampang untuk diendus adalah fatamorgana rantai makanan, diferensiasi, stratifikasi, dan klasifikasi yang memposisikan petani, peladang, pekebun sebagai “subyek terbawah” penghidupan modern. Disini dengan mudah kau akan temukan bercocok tanam bagi manusia tidak lebih hanya sebagai hierarchy value yang sangat dihindari untuk diwarisi. Hampir sangat jarang dijumpai bila ada anak yang sekolah tinggi-tinggi, setelah tamat mau meneruskan lakon petani, peladang, pekebun yang ibu-bapaknya telah berpeluh keringat melakoninya. Lebih baik berusaha melamar menjadi ambtenaar, sehingga kursi, meja dan tembok beralih menjadi sahabat. Menjadi petani, peladang, pekebun yang kesehariannya diliputi oleh dunia cocok tanam adalah nista yang penuh kehinaan. Banyak capeknya sedikit keuntungan materialnya.

Ada sekitar sependerasan nira sipenanya kedua berdiam diri menganalisa keterkaitan antara manusia dengan bercocok tanam melalui perangkat value. Ketika akhirnya ia manggut-manggut dan senyum-senyum sendiri, fokus perhatianku dengan sipenanya pertama pun teralih kepadanya. Pembicaraan kami terhenti. Kami terperangah. Sejurus kemudian, aku memberanikan diri mencuit tangan sipenanya kedua.

“Iya bang, kenapa?”, ucapnya seketika berhenti manggut-manggut dan senyum-senyum sendiri.

“Sudahkah kau dapati pertalian kisah Adam-Hawa, Idris, Nuh, Ibrahim dan Musa tadi itu yang berkaitan dengan tetumbuhan?”, tanyaku pada sipenanya kedua.

“Lho kok itu yang abang tanyakan”, jawabnya singkat kemudian meneruskan, “Bukan itu yang kuanalisa barusan. Melainkan perihal dimensi value, bang”, ucapnya tegas agak keheranan.

“Sudahlah tak mengapa itu, bung. Menurutku, pertalian kisah yang kau tanyakan itu ada pada “perkenan izin” Tuhan. Bukankah demikian, bung?”, potong sipenanya pertama.

“Hhmm…”, responsku sambil manggut-manggut.

“Jika yang hendak kau maksudkan seterusnya adalah pentingnya mengakar. Maka tak ada tumbuhan yang tidak mengakar. Begitu juga manusia, ia haruslah mengakar. Ya pikirannya, ya ilmunya, ya pendengarannya, ya akalnya yang kemudian haruslah termanifestasi pada sikap dan tindakan manusia di kehidupannya sehari-hari. Apakah demikian yang kau maksudkan, bung?”, ujar sipenanya pertama melanjutkan.

Sipenanya kedua hanya diam mendengar omongan sipenanya pertama. Sementara aku yang dari tadi menyimak, memberanikan diri memotong omongan.

“Mungkin saja begitu seperti yang kau katakan. Cuma kau keliru bila menganggap ini soal maksudku. Ini bukan soal kehendakku. Ini semua tentang kehendak Tuhan. Demikianlah adanya”, ujarku singkat menanggapi.

“Owhhh… Jadi maksudnya, siapa saja yang melarang-larang keharusan manusia mengakar sama saja dengan menantang kehendak Tuhan, begitu ya bang?”, celetuk sipenanya kedua tiba-tiba.

“Husss, ini bukan soal manusia. Ini tentang tetumbuhan”, kata sipenanya pertama mengomentari.

“Tepat, ini memang belum waktunya”, tuturku singkat.

Singaparna- Cikini
Senin, 25 Januari 2021

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed