by

NEGERI PARA PENDOSA (?)

Farkhan Evendi

(Ketua Umum BMI)

Banyak orang menyebut bahwa kita sedang berada pada masa di mana kabar bohong banyak dipercayai orang, sementara kebenaran tetap tambil dibelakang, terselip atau ditutupi. Saling hina dan caci maki dianggap pesta demokrasi. Politik, yang dalam hal ini seolah-olah terwakili oleh partai, juga menjadi minyak, dan bahkan menjadi kompor meruncingnya polarisasi perbedaan yang ada.

Pengalaman kita dengan politik prosedural demokrasi beberapa tahun belakangan menjadi penanda bahwa ada unsur kesengajaan, yang dalam praktiknya menyebabkan perpecahan. Orang beramai-ramai menjadi kebenaran atas pandangan-pandangannya, atas pilihan-pilihan politiknya, sementara orang-orang di luar darinya, menjadi bersalah dan patut dipersekusi bahkan sampai pada level yang paling privat.

Tanda ini sudah dinukil dalam beberapa riwayat orang-orang sebelum kita. Abu Nu’aim Al-Asfahani dalam kitab Hilyatul Auliya’ menyebut generasi seperti saat ini sebagai “generasi busuk”.

“Akan ada di akhir zaman suatu komunitas yang menganggap bahwa ibadah yang paling istimewa adalah saling mencaci maki, menjelekkan satu sama lain. Mereka itu disebut generasi busuk.”

Seharusnya kita sadar bahwa sesama mahluk atau subjek, kita ini bersaudara. Kita harusnya saling mencari titik temu, hidup damai, berdampingan dan mengayomi, agar apa yang kita cita-citakan tentang kemanusiaan yang adil dan beradab bisa terwujud, dan bukan malah mencari-cari kesalahan sampai memperuncing persoalan/perbedaan.

Sekarang dunia sedang dilanda pandemi Covid-19 tanpa terkecuali, baik negara dunia pertama maupun ketiga. Virus Covid-19 ini meluluh lantahkan sendi-sendi kehidupan kita, mulai dari perekonomian, juga ruang peribadatan. Kita banyak kehilangan dokter dan tenaga medis, banyak rakyat menjadi korban, termasuk lebih dari dua ratus ulama wafat. Tahun ini benar-benar amul husni, tahun kesedihan.

Ironis melihat diskursus tentang vaksin Covid-19 yang kabarnya sudah tiba di Indonesia. Vaksin ini diproduksi dari China, dan kita mempersoalkan hal-hal yang yang tidak terlalu subtantif dalam penanganan wabah Covid-19. Masihkah kita masih pada level halal dan haram dalam melihat persoalan ini, di saat banyak korban berjatuhan?

Harusnya kita menyadari bahwa kita tertinggal jauh dalam dalam urusan obat-obatan. Banyak dari kita pergi ke Singapura bahkan negara lainya untuk urusan pengobatan, dan ini menjadi tanda kalau kita masih jauh di belakang untuk urusan penanganan kesehatan.

Perselisihan membuat kita sibuk, masing-masing sibuk dengan dosa orang lain, kita seperti negeri para pendosa, sementara ada banyak energi baik yang bisa kita rengkuh dan kerjakan untuk memperkuat persaudaraan dan kemanusiaan di tanah air Indonesia. Wa Allahu a’lam bisshowab!

Jakarta Desember 2020

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed