by

Pendidikan Dalam Amanat UU

Pendidikan Dalam Amanat UU
Oleh: Wahyu Rimbun
(Sekretaris Departemen Pendidikan DPN BMI)

Sekarang ini bangsa Indonesia dituntut untuk memberdayakan kekayaan Indonesia melalui pendidikan dengan sangat bijak. Salah langkah dalam pengambilan keputusan kebijakan pendidikan akan berimbas pada bobroknya generasi. Berbagai permasalahan amoral yang terjadi di Indonesia baik di tataran pemerintahan, wakil rakyat serta hilangnya nilai-nilai moral di tengah kaum muda mencerminkan proses pendidikan yang mereka konsumsi. Evaluasi yang sepatutnya dilihat untuk perombakan pendidikan secara nasional bukanlah pada hasil belajar siswa, akan tetapi pada perilaku moral pendahulunya yang telah mengeyam pendidikan lebih awal.

Tekhnologi bisa menyampaikan ilmu, akan tetapi tekhnologi tidak bisa memberikan pendidikan moral secara utuh. Hari ini bangsa Indonesia butuh sosok teladan untuk dicontoh dan menjadi panutan. Sedikit mengkritik latar balakang keputusan presiden Jokowi yang memilih Nadiem Makarim menjadi Menteri Pendidikan. Presiden Jokowi menilai latar belakang Nadiem yang mendirikan perusahaan rintisan berbasis teknologi sebagai modal tersendiri. Presiden meyakini sosok Nadiem bisa menggunakan keahliannya di bidang teknologi untuk menerapkan standar pendidikan yang sama bagi 300.000 sekolah dengan 50 juta pelajar yang tersebar di seluruh Indonesia.

Bijaknya seorang pemimpin sebaiknya memiliki berbagai macam warna kacamata, ketika mengamati Indonesia dari sabang sampai merauke untuk permasalahan pendidikan. Pada pendidikan objek yang akan dibentuk bukanlah lahan, bukan bangunan ataupun wilayah akan tetapi manusia. Sepatutnya proses pendidikan yang diberikan bukanlah proses pendidikan yang mencetak manusia-manusia pekerja, akan tetapi manusia yang beriman dan berakhlak mulia. Ini adalah PR besar bagi Nadiem selaku Menteri Pendidikan dalam merumuskan peta pendidikan Indonesia dari sabang sampai merauke.

Pendidikan adalah sepenggal kata yang rumit jika diterapkan. Setiap orang memiliki metode pendidikan versi terbaik masing-masing. Pembangunan dan perbaikan pendidikan tidak dapat hanya dilihat dari satu sudut pandang sepihak. Terkhusus di Indonesia yang memiliki beragam suku, budaya dan kearifan lokal. Sehingga, dengan demikian bentuk dan jenis pendidikan yang seragam belum tentu dapat mencapai tujuan pendidikan secara nasional. Hari ini Indonesia seperti kehilangan jati dirinya jika dilhat dari segi pendidikan. Berbagai kearifan lokal mulai banyak tergerus zaman, padahal kearifan lokal adalah salah satu jati diri bangsa Indonesia itu sendiri.

S. Swarsi menjelaskan, kearifan lokal adalah kebijaksanaan manusia yang bersandar pada filosofi nilai-nilai, etika, cara-cara, dan perilaku yang melembaga secara tradisional. Lebih lanjut dijelaskan olah Mariane (2014) kearifan lokal adalah nilai yang dianggap baik dan benar sehingga dapat bertahan dalam waktu yang lama, bahkan melembaga. Penerapan pendidikan berbasis kearifan lokal berarti lebih mengedepankan nilai, moral dan perilaku. Hal tersebut juga tertuang dalam UU no. 20 tahun 2003 yang menyatakan “bahwa tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”. Tujuan pendidikan nasional menyebutkan bahwa yang pertama adalah terbentuknya manusia beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Jadi komposisi pendidikan yang akan disalurkan pada bangsa Indonesia haruslah mampu membuat bangsa itu beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa terlebih dahulu.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed