by

Perempuan dan Kapitalisasi Industri

-Opini-97 views

Kirana Pungki Apsari.

Sekretaris Departemen Kajian dan Opini Publik

Dewan Pimpinan Nasional Bintang Muda Indonesia

 

Jika kita berbicara tentang perempuan apa yang kita pikirkan? Dari kodrat nya, perempuan memiliki rahim. Sedangkan dari sifatnya, perempuan diasosiasikan sebagai insan yang memiliki sifat penuh kasih sayang, memiliki kepekaan yang tinggi, perasa dan lembut hatinya serta tidak sedikit juga orang yang memandang perempuan itu adalah adalah makhluk yang lemah. Kelemahan perempuan yang kemudian menjadikan mereka sebagai makhluk yang selalu butuh pertolongan dari lelaki. Anehnya, perempuan senang beri predikat tersebut. Padahal, sebenarnya predikat tersebut merupakan sebuah bentuk ungkapan ketidakberdayaan perempuan.

Sehingga perlu kita sadari bahwa cantik dan menarik saja tidak cukup untuk membuat perempuan memiliki  hak, perlakuan dan akses yang sama dengan laki-laki dalam segala aspek kehidupan termasuk di bidang industri.Persaingan di dunia industri saat ini sangat sengit sekali, jadi dengan predikat ‘lemah’ serta tampilan cantik dan menarik dari perempuan membuat mereka dieksploitasi tanpa disadari. Sebab, perempuan memiliki daya tarik tersendiri dalam dunia industri untuk menarik minat konsumen seperti kulit putih mulus, bagian dada, leher, gerakan tubuh serta mimik wajah.

Akibatnya, dalam dunia industri, perempuan tidak memainkan peran sebagai pengelola, mereka hanya dijadikan pajangan dalam bentuk memamerkan lekuk tubuh beserta atribut kecantikan lainnya agar dijadikan sebagai promosi bagi konsumen untuk tertarik membeli perlengkapan yang disediakan oleh dunia industri. Tanpa disadari, dengan kondisi tersebut, hanya menguntungkan bagi beberapa pihak dan menyebabkan perempuan di nomor sekiankan dalam bidang industri.Fakta ini dapat  dilihat dari data detikfinance.com dan databoks tahun 2020 deretan orang terkaya di dunia dan Indonesia sendiri didominasi oleh laki-laki. Hal ini disebabkan kurangnya akses bagi perempuan untuk mengembangkan diri.

Faktanya saat ini pengembangan diri perempuan di bidang industri terhambat karena faktor patriarki yang diibaratkan seperti asap tebal yang menyelimuti perempuan.Menurut Alfian Rokhmansyah (2013) dalam buku Pengantar Gender dan Feminisme, patriarki berasal dari kata patriarkat, berarti struktur yang menempatkan peran laki-laki sebagai penguasa tunggal, sentral, dan segala-galanya. Hal ini menyebabnya terjadinya kesenjangan dalam kehidupan dan segala aspek seperti sosial, politik, ekonomi, dan budaya.

Terlebih lagi dengan mitos jadul yang masih berkembang hingga saat ini yaitu “kamu kan perempuan”, di tambah lagi dengan terbatasnya informasi dan pengetahuan bagi perempuan itu sendiri tentang hak yang didapatkannya, apalagi jika perempuan sudah menikah perempuan selalu di tuntut untuk mengetahui kewajibannya tapi tidak haknya. Pada masa revolusi industri 4.0 saat ini merupakan peluang bagi perempuan untuk mengambil peran, karena sama-sama memulai dari garis star untuk menuju kesuksesan di bidang industri, sehingga perempuan tidak lagi menjadi objek, atau menjadi korban ekploitasi dalam bidang promosi.Hal ini didukung dengan kemajuan teknologi. Dimana proses untuk branding lebih efisien menggunakan sosial media, karena ‘pasar’ atau calon konsumen yang mudah dijangkau saat ini adalah pengguna sosial media. Rata-rata saat ini semua orang memiliki sosial media, sehingga peluang ini harus dimanfaatkan dengan baik oleh perempuan untuk menjadi pemeran utama dalam dunia industri.

 

Oleh karena itu perempuan harus mulai berbenah dari diri sendiri, open minded untuk menerima tuntutan zaman, serta menambah wawasan dan ilmu pengetahuan, suatu langkah yang baik ketika ada perempuan yang mulai menyadari bahwa ilmu yang dapat dari pendidikan formal saja tidak cukup, maka perlu untuk ikut serta dalam kegiatan sosial ataupun organisasi, untuk mempertajam soft skill dan hard skillnya.

Dengan fenomena hari ini bagi setiap perempuan bias melakukan perubahan dari diri sendiri karena yang pertama harus merdeka secara pemikiran, kreatif dan mandiri kemudian berani bertindak, Indonesia memiliki perempuan yang sukses di bidang industri bahkan telah merambah ke pasar berkelas internasional, dengan hal ini  harus memacu semangat bagi perempuan lain untuk terus berkarya dan membuka akses untuk perempuan untuk memiliki kesempatan yang sama dengan laki-laki, serta mendukung dan mengawal kebijakan pemerintah agar memperhatikan hak-hak perempuan.

 

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed