by

PERTANIAN PANGAN YANG BERKELANJUTAN

PERTANIAN PANGAN YANG BERKELANJUTAN

Muhammad Irvan Mahmud Asia (Sekretaris Departemen SDA dan LH DPN BMI Demokrat & Mahasiswa Pascasarjana Universitas Nasional, Jakarta)

 

Covid-19 masih menjadi predator yang mematikan: nyawa manusia, aktifitas belajar, aktifitas ekonomi direm sedemikian ketat bahkan ada yang diberhentikan total. Namun aktifitas pertanian tetap tumbug positif. Hal ini terlihat dari kontribusi pertanian Indonesia pada pertumbuhan ekonomi, pada Quartal II dan III 2020 masing-masing 2,2 persen dan 2,15 persen. PDB pertanian tumbuh 16,24% pada triwulan-II 2020. Pertumbuhan tersebut karena ditopang subsektor tanaman pangan pada Quartal II tumbuh 9,23 persen dan Quartal III sebesar 7,14 persen.

Badan Pusat Statistik juga merilis selama 2020 ekspor pertanian Indonesia mencapai 399,53 triliun atau naik 12,63 persen dari tahun sebelumnya yang hanya 349,07 triliun. Namun yang perlu menjadi perhatian, kontributor terbesar ekspor ini masih dari sawit bukan dari komoditas khususnya pangan. Sementara Nilai Tukar Petani (NTP), rata-rata Nasional per Desember 2020 naik secara signifikan mencapai 103,25 atau naik 0,37 persen dari tahun sebelumnya yang hanya 102,86 persen.

Capaian pertanian pangan selama 2020 memang sangat menggembirakan, khususnya bagi petani dan ekonomi nasional ditengah kelesuan ekonomi nasional dan global. Namun, ini sekaligus menjadi ujian-tantangan bagi pemerintah Indonesia dan berbagai pihak lain yang terlibat dalam pembangunan pertanian khusunya pangan, apakah bisa dijaga keberlanjutannya dan tentunya kekurangan-kekurangan yang ada bisa segera diselesaikan.

Saat yang sama, BPS melansir bahwa pengangguran terbuka meningkat jika dibandingkan Agustus 2019 yang 5,23 persen menjadi 7,07 persen pada Agustus 2020. Sementara Food Sustainability Index menempatkan Indonesia sebagai negara ke-60. Semakin besar angkanya, peringkat semakin buruk. Peringkat Indonesia kalah jauh dengan Zimbabwe peringkat 31 dan Ethiopia peringkat 27. Food Sustainability Index mengacu pada tiga indikator utama yakni limbah pangan dan pertanian yang berkelanjutan artinya tidak merusak lingkungan, menjaga ekonomi-sosial sekitarnya, dan persoalan nutrisi seperti obesitas dam semakin bertambah berat karena berdasarkan indeks pemeringkatan Food Security Index, Indonesia berada dalam urusan ke-62 dari 113 negara pada 2019. Disini berkaitan dengan masalah keterjangkauan, ketersediaan, dan kualitas pangan.

Presiden Joko Widodo dalam Rakernas Pembangunan Pertanian pada 11 Januari 2021 menekankan bahwa komoditas pangan yang masih impor dalam jutaan ton seperti kedelai, jagung, bawang putih, beras dan lain-lain patut di evaluasi. Dalam sejarah Indoenesia, sejak orde lama sampai sekarang, impor masih menjadi solusi atas kelangkaan ataupun kekurangan produksi dalam negeri. Ada banyak ragam masalah dan tantangan baik kebijakan (tumpang tindih), strategi yang tidak tepat, luas tanam yang kecil (terkait pertanian rakyat kecil dengan kepemilikan lahan), subsidi yang tidak tepat sasaran, pemburu rente, oknum-oknum pemerintahan yang menyalahgunakan kewenangannya (korupsi bantuan pertanian), anak-anak muda yang enggan bertani, harga komiditi yang tidak layak sehingga petani tidak memiliki motivasi lagi menanam seperti yang terjadi pada petani kedelai, bawang putih dan lain-lain (ongkos produksi lebih besar dari pada harga jual ditingakat petani).

Selain itu, pertanian pangan Indonesia masih bertumpu pada teknologi konvensional dan kurang inovasi, lebih mengandalkan sumber daya alam (natural resources based innovation). Lambannya perkembangan teknologi dan inovasi menyebabkan tingkat produktivitas dan daya saing produk pangan Indonesia masih rendah. Di lain pihak telah terjadi loncatan inovasi (innovation disruption) di berbagai negara maju untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing produk pertanian dengan mengadopsi pertanian 4.0 (agriculture 4.0) yang dikenal sebagai pertanian pintar (smart farming) yang menjadikan pertanian lebih mudah, efisien dan menguntungkan dan dapat menarik generasi muda untuk mengembangkan karier di sektor pangan.

Profil daya saing Indonesia masih bertumpu pada sumber daya alam sebagai keungulan komparatif (natural resources based). Saat ini kontribusi inovasi terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia sangat kecil, yakni sekitar 1%, jauh lebih rendah negara tetangga yang sudah berkisar 14-35%. Total Productivity Factor (TPF) adalah penentu pertumbuhan diluar faktor labor dan modal. Kontribusi modal terhadap pertumbuhan 7 ekonomi untuk periode 1970-2016 sangat besar yakni 82%. Artinya bahwa pertumbuhan ekonomi sangat tergantung pada modal bukan pada teknologi dan Inovasi. Dikawasan ASEAN saja Indonesia memiliki TPF yang paling kecil. Artinya, Indonesia sebagai produsen utama produk pertanian (kelapa sawit, karet, kopi, kakao, teh, dan berbagai produk pertanian lainnya) hanya mendapat keuntungan yang sangat kecil (nilai tambah hanya 1-10 kali). Sebaliknya negara lain dengan mengelola produk tersebut dengan teknologi dan inovasi akan mendapatkan benefit paling besar (nilai tambah 100 kali atau lebih).

Yang Harus Dilakukan

Tantangan yang dihadapi pertanian Indonesia akan semakin kompleks dan serius, mulai dari hulu-hilir. Belum lagi permasalahan klasik pertanian Indonesia yang belum terselesaikan, seperti: pengolahan tanah khususnya pada lahan kering masih dengan cara-cara tradisional, penggunaan benih non unggul, manajemen rantai pasok yang belum tertata, teknologi pasca panen yang belum memadai, pemasaran yang belum yang stabil, petani didominasi kaum tua (ageing farmer) dan kaum muda (generasi milenial) kurang berminat pada pertanian, infrastruktur pertanian masih belum memadai sehingga memerlukan biaya transport yang relatif mahal dan lain-lain.

Dengan demikian, Indonesia harus segera berbenah dengan melalukan akselerasi inovasi dan penggunaan teknologi hulu-hilir untuk meningkatkan produktivitas, nilai tambah dan daya saing sehingga tidak bertumpu pada ekspor pertanian dalam bentuk bahan baku (raw materials), tetapi berbasis produk olahan dan inovasi dengan nilai tambah yang besar. Artinya keunggulan kompetitif dan ciptaan (innovation) menjadi kekuatan pertanian Indonesia dalam pasar regional maupun global. Adapun karaketistik pertanian pintar antara lain: petaninya mahir teknologi digital (digital farmer), kegiatan on farm merupakan padat modal dan teknologi atau inovasi, pengolahan hasil (agroindustri) berbasis inovasi untuk meningkatkan daya saing, nilai tambah dan benefit, dan pemasaran efisien dengan memanfaatkan teknologi informasi/digital.

Sebagai ilustrasi, perbaikan teknologi budidaya dapat meningkatkan produktivitas dan pendapatan sekitar 1-2 kali lipat. Pemanfaatan teknologi pengolahan mampu meningkatkan nilai tambah 10-50 kali sedangkan inovasi (pengolahan, kemasan, pemasaran dan pencitraan atau branding) mampu meningkatkan 6 nilai tambah 50-100 kali. Dengan demikian, pertanian pintar yang bertumpu pada teknologi dan inovasi serta sumber daya petani yang mahir teknologi digital (digital farmer) harus mempersiapkan sistem, teknologi, manajemen, dan regenerasi petani (petani milenial) untuk meningkatkan produktivitas, nilai tambah dan daya saing komditi pertanian Indonesia tidak saja dikawasan regional namun juga secara global.

Pertanian pangan berbasis inovasi berkaitan langsung agroprenuership untuk menghasilkan keuntungan. Fokus inovasinya adalah berbasis pemecahan masalah (hulu-hilir) dengan langkah-langkah: terobosan kreatif, kerjakan dan operasionalkan dengan efisien, dan menciptakan keuntungan berbasis agrotechnopreneur (entrepreneurship). Hanya dengan seperti ini, sektor pertanian pangan akan menjadi karir pilihan utama bagi generasi muda seperti yang sudah terjadi di negara-negara maju (farming as a fastgrowing career).

Optimisme ini selalu ada karena Indonesia dikarunia SDA yang melimpah ruah, tanah yang subur, iklim yang mendukung, sampai budaya bertani yang sudah menjadi nadi bangsa-bangsa

di Indonesia selama ratusan bahkan ribuan tahun. Tentu ini semua adalah modal sosial. Yang dibutuhkan sekarang adalah, bagaimana kebijakan-strategi-manajemen-tenaga operasionalnya betul-betul bisa satu jalan/satu orkestra dalam satu visi besar dan terukur. Komitmen semua pihak, terutama pemerintah menjadi dasar untuk meletakan pangan Indonesia sebagai tanggung jawab konstitusional dan tanggung jawab moral.

Dalam jangka pendek, Renstra Kementerian Pertanian 2020-2024 perihal swasembada pangan harus dieksekusi dengan pendekatan smart farming. Kementerian teknis dan pendukung juga harus merubah paradigma, meninggalkan rutinitas, cari terobosan-terobosan. Selanjutnya dalam jangka panjang regenerasi petani menjadi penting, karena smart farming membutuhkan SDM yang bisa menjalannkannya. Sementara usia petani Indonesia saat ini sebagian besar didominasi petani berusia 50 tahun keatas. Syarat minimumnya petani muda harus menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi pertanian untuk mengoptimumkan pertanian Indonesia sehinga bisa maju, mandiri dan modern.

Sekolah-sekolah pertanian seperti SMK pertanian perlu diperbanyak. Peran kementeria lain juga penting seperti Kemenkop, Perdagangan dan Perindustrian dan juga BUMN turut melakukan kontribusi terutama di pasca panen dan tentunya peran perguruan tinggi terkhusus fakultas pertanian dan fakultas teknologi dan industri pertanian bisa memberikan kontribusi. Hanya dengan ini, pertanian pangan nasional akan mampu bersaing-kompetitif dengan negara lain.

Pada akhrinya pertanian pangan yang berkelanjutan sebagai sebuah sistem pembangunan terintegrasi seharusnya menjadi pedoman pembangunan pangan Indonesia. Namun, hal tersebut perlu kebijakan pemerintah yang konsisten terutama dalam masa pandemi dan paska pandemi. Karena itu semua pemangku kepentingan harus mengembangkan strategi dan mendorong kesepakatan bersama untuk memajukan sektor pangan nasional. Secara matematis jika sektor tanaman pangan termasuk peternakan dan perikanan dapat dikelola secara terintegrasi, on farm sampai ke hilir akan mengurangi bahkan menghilangkan impor, menjadi solusi pengangguran terbuka hingga pengentasan kemiskinan dan mendongkrak indeks keberlanjutan pangan Indonesia dan Food Security Index.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed