by

Potensi Membangun Gerakan Politik Kaum Milenial

Muhammad Irvan Mahmud Asia (Sekretaris Departemen SDA dan LH DPN BMI Demokrat & Mahasiswa Pascasarjana Universitas Nasional, Jakarta)

Segala kemudahan yang diperoleh dari internet menjadi kekuatan utama generasi milenial. Keeratan hubungan generasi ini dan media sosial turut memengaruhi pola gebrakan politik mereka. Generasi milenial punya karakteristik yang cenderung berorientasi pada target dan bukan proses. Karakteristik ini terakomodasi secara baik di dalam media sosial. Media sosial memungkinkan konsolidasi dan kampanye menjadi lebih mudah dan cepat tanggap untuk memulai aksi. Mereka menghendaki sebuah perubahan progresif yang jikalau bisa, terlaksana secepat mungkin dengan cara-cara kekinian yang tidak rumit.

Media sosial adalah salah satu wadah yang cocok dan tepat bagi generasi milenial untuk mengampanyekan kepedulian mereka terhadap masalah sosial-politik. Aksi Greta Thunrberg dan Lilly Plat adalah contoh yang dapat diangkat. Dua gadis ini memanfaatkan media sosial sebagai sarana untuk mempengaruhi khalayak banyak terkait isu-isu kemanusiaan. Lewat media sosial Greta berhasil mengkampanyekan gerakan Friday for future-nya dan menggalang massa yang tergolong banyak untuk menentang kebijakan-kebijakan yang merusak lingkungan hidup. Sementara Lilly lewat kanal Twitternya mampu mengajak banyak orang untuk punya perhatian khusus terhadap deforestasi Hutan Amazon.

Untuk konteks Indonesia, pemanfaatan media sosial untuk sebuah gerakan politik dapat terlihat dalam #TanpaNamaKampus pada gerakan #ReformasiDikorupsi beberapa waktu lalu. Beberapa mahasiswa yang dilarang ikut berdemonstrasi oleh kampusnya membuat aliansi ini dan mengampanyekannya lewat media sosial. Sambutannya sangatlah positif. Selain itu selama gerakan #ReformasiDikorupsi, media sosial juga digunakan untuk mengumpulkan dana bantuan, informasi mahasiswa hilang, waktu dan tempat berkumpul, serta informasi penting lainnya. Sesuatu yang dibuat generasi milenial ini adalah sebuah gaya berpolitik baru. Tidaklah mengherankan bila kemudian Dana Fisher mengatakan bahwa gerakan yang dibuat generasi ini apabila terus berkembang, akan berpotensi mengubah lanskap politik yang ada. Gaya politik yang khas dan cepat tanggap membuat generasi ini memiliki pengaruh kuat untuk memobilisasi arah kebijakan politik.

Politisasi milenial adalah secuil masalah yang mungkin dapat meruntuhkan kepercayaan masyarakat dan optimisme generasi milenial itu sendiri. Namun hal tersebut kiranya tidak perlu dicemaskan apabila generasi milenial memiliki komitmen dan fokus terhadap gebrakan yang dibuat. Politisasi tidak akan mendapat tempatnya apabila generasi milenial berhasil menunjukkan bahwa gaya berpolitik lewat media sosial yang dibuat sungguh-sungguh berdaya transformatif.

Maka dari itu, demi tercapainya hal ini, ada beberapa hal yang dapat dilakukan: Pertama, menyuarakan suara masyarakat yang terdampak dari kebijakan lewat postingan media sosial. Terkadang mereka yang kurang beruntung tidak punya kesempatan untuk menyuarakan penderitaan. Maka dari itu kehadiran media sosial dapat dijadikan sarana untuk menyuarakan penderitaan ini agar ditanggapi secara serius. Pada tataran ini media sosial tidak dijadikan sebagai sarana rekreatif semata. Seorang pengguna akun tidaklah mengejar rating dari konten yang dibagikan melainkan mengejar sebuah perubahan sosial-politik. Generasi milenial dapat melakukannya lewat kampanye yang memihak kaum tertindas dan mengajukan koreksi dan perlawanan terhadap situasi ini di media sosial. Atau bisa juga dilakukan dengan memposting aneka fakta yang menunjukkan sebuah ketidakadilan dan ketimpangan sosial. Dari informasi-informasi ini, niscaya ada sebuah gerakan perubahan yang nyata.

Kedua, membangun ruang diskusi yang progresif. Media sosial memungkinkan pertemuan berbagai pandangan baik dalam skala lokal, nasional maupun internasional. Kemungkinan ini membuka sebuah peluang terbentuknya ruang diskusi yang progresif.

Di dalamnya bisa dilakukan aneka tukar pandangan yang dapat membuka dan memperkaya cakrawala berpikir. Luasnya horizon berpikir dapat memudahkan generasi milenial untuk memvalidasi dan memverifikasi aneka berita dan informasi dari beragam perspektif. Pada akhirnya dari ruang diskusi yang telah memantik nalar kritis ini muncul aksi nyata untuk menyuarakan hingga melakukan koreksi atas kebijakan tertentu.

Ketiga, ruang diskusi media sosial ini pada tingkatan tertentu dapat menggalang sebuah advokasi kebijakan publik lewat petisi-petisi yang menolak kebijakan-kebijakan tertentu. Lewat hal-hal inilah, generasi milenial dapat membuktikan bahwa gaya berpolitik mereka memang berdaya transformatif, serentak dengan sendirinya juga menutup ruang bagi upaya-upaya yang hendak memanfaatkan bahkan menunggangi agenda perubahan tranformatif yang kelak akan memberi manfaat dan harapan yang lebih baik bagi kehidupan generasi mendatang.

Cuman jadi komoditas elit politik? Ga mengembangkan nalar kritis? Milenial masak gitu sih.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed