by

Refleksi Hari Kesehatan Nasional : Covid 19 Bikin Rakyat Menderita Pebisnis PCR Kaya Raya

Oleh : Firda A Sirait ( Direktur KOPI Drupadi )

CILEDUG- Sudah empat bulan kita merasakan PPKM, dimana banyak ruang gerak kita yang dibatasi demi menurunkan penyebaran Covid-19. Banyak sektor yang terdampak dengan adanya peraturan ini, salah satunya sektor makanan/minuman dan penerbangan.

Hal ini juga sangat berdampak bagi masyarakat menengah kebawah, dimana mereka semakin susah untuk mencari nafkah. Apa lagi untuk mereka yang biasanya berjualan di pinggir jalan, sebelum ppkm saja pendapatan mereka pas-pasan, apa lagi saat ppkm mereka jadi semakin sulit.

Jika orang mengatakan, “yah kan ada bantuan pemerintah selama pandemi.” Memang pemerintah memberikan bansos kepada masyarakat, tetapi yang menjadi pertanyaannya, apakah bantuan itu sudah merata?

Transparency International Indonesia (TII) dan Indonesia Corruption Watch (ICW) menyebut, data yang tidak akurat menyebabkan masih ada masyarakat terdampak yang tidak menerima bansos Covid-19.

Dari situ sudah jelas bahwa sebenarnya pemerintah belum siap menghadapi pandemi yang sudah berjalan hampir 2 tahun ini. Belum lagi adanya korupsi bansos yang buat kita semua terpukul. Kok masih ada aja yang tega memakan uang rakyat di tengah pandemi ini.

Jika kita pikir lagi, apabila uang hasil korupsi itu di kumpulkan dan diberikan kepada rakyat, berapa banyak rakyat yang selamat dari kelaparan.

Nah, ada lagi sekarang ini berita terbaru mengenai mafia PCR. Terkadang saya heran mengapa pemerintah terus-terusan memberlakukan swab test baik antigen maupun PCR. Oh ternyata sudah ada yang menjadikan swab test itu lumbung mata pencaharian.

Padahal sudah sekitar 48,11% masyarakat yang mendapatkan vaksin dosis 1 dan 27,62% untuk vaksin dosis 2. Dengan angka yang segitu, seharusnya kita tidak perlu lagi test PCR, yang harus di lakukan adalah memperketat peraturan untuk orang yang datang ke luar negeri agar tidak membawa virus baru, jangan malah terus-terusan rakyat yang di tekan tetapi diberikan kelonggaran untuk orang asing masuk ke negara kita.

Hal ini juga yang menyebabkan penerbangan menjadi sektor yang paling terdampak. Orang-orang jadi malas untuk berpergian, karena harga swab PCR lebih mahal dari pada harga tiket pesawat.

Jadi di Hari Kesehatan Nasional ini, saya sebagai warga negara yang tidak pernah mendapatkan bantuan pemerintah yang sudah dua periode ini berharap pemerintah untuk lebih concern dalam menanggulangi pandemi, jangan segala sesuatunya di jadikan ladang uang. Jangan lupa kita ini negara demokrasi, dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat. Bukan dari rakyat, oleh rakyat, untuk wakil rakyat.

Saya juga mengucapkan terima kasih yang tulus untuk para tenaga medis yang selalu siap sedia 24/7 menjadi garda terdepan melindungi negara kita dari pandemi ini. Terima kasih juga untuk orang-orang yang selalu mengikuti protokol kesehatan.

Stay safe dan jangan lupa berdo’a. Seperti Ketum BMI Farkhan Evendi selalu katakan kepada kami, dimana pun kita berada, apa pun yang sedang kita lakukan, selalu masukkan Allah di dalam nya. Karena segala sesuatu itu datangnya dari Allah.

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed