by

Tugas sekolah yang menumpuk selama Pandemi Covid 19, semakin pintarkah atau memicu stres?

  • ofOleh: Christin Patrisya Wattimena

Sudah jalan tahun ke dua sejak Maret 2020 kita merasakan dampak dari Pandemi Covid-19, di mana kelangan pekerja dan sekolah serta semua warga Negara harus bekerja dari rumah Work From Home dan para pelajar dan mahasiwa harus sekolah atau kuliah secara daring. Situasi ini memaksa kita semua untuk bisa menyesuaikan diri dalam segala hal dan tentu saja ini tidak mudah, dibutuhkan kemampuan menerima dan semangat adaptasi yang kuat.

Pada saat yang sama, belakangan kita juga banyak mendengar keluh kesah dari para orang tua, pelajar maupun mahasiswa. Banyak dari orang tua yang ikut terdampak karena pandemi ini, penghasilan dan aktfitas ekonomi mereka terhampat karena lockdown, namun pengeluaran menjadi agak lebih besar, terutama fasilitas anak sekolah seperti kuota internet yang extra. Belum lama ini kita mendengar kasus orang tua LH (26) yang membunuh anaknya yang berusia 8 tahun di Lebak, Banten karena tidak mau belajar. LH menganiyaya korban hingga tewas lantaran kesal anaknya kesulitan belajar daring. Kasus tersebut hanya salah satu dari rentetan kasus-kasus yang lainya. Bagaiamana fenomena ini bisa terjadi? Apakah hanya orang tua saja yang terkena dampaknya? Mungkinkah si anak tidak merasakan tekanan stress yang sama?

Hal-hal yang memicu ledakan emosional tidak hanya dari situasi yang besar saja, hal kecil dan sepele pun bisa memicu terjadi nya tekanan dan menimbulkan strss. Stres adalah suatu proses yang menilai suatu peristiwa sebagai sesuatu yang mengancam, ataupun membahayakan dan individu merespon peristiwa itu pada level fisiologis, emosional, kognitif dan perilaku. Peristiwa yang memunculkan stres dapat saja positif (misalnya merencanakan perkawinan) atau negatif (Richard 2010). Ada dua aspek utama dampak dari stres yaitu: aspek fisik (menurunnya kondisi seseorang pada saat stres sehingga orang tersebut mengalami sakit pada organ tubuhnya, seperti sakit kepala, gangguan pencernaan) dan aspek psikologis (terdiri dari gejala kognisi, gejala emosi, dan gejala tingkah laku. Masing-masing gejala tersebut mempengaruhi kondisi psikologis seseorang dan membuat kondisi psikologisnya menjadi negatif, seperti menurunnya daya ingat, merasa sedih dan menunda pekerjaan).

Adaptasi orang tua yang menjadi guru dadakan dan siswa yang mendapat tugas lebih banyak daripada sekolah tatap muka dan faktor-faktor lain termasuk jaringan internet, keterbatasan faslitas teknologi lah pemicu tekanan dan gejolak dalam diri. Tugas sekolah meningkat berkali-kali lipat dengan maksud jika belajar online siswa dianggap memiliki waktu yang lebih untuk diluangkan belajar dan mengerjakan tugas, kebanyakan fakta di lapangan. Rasa jenuh di rumah, tidak bertemu teman yang biasanya bermain bersama membuat anak kehilangan salah satu rasa bahagianya, tugas sekolah yang banyak di rumah belum tentu anak dapat mengerjakan dengan maksimal karena jika di sekolah mereka bisa bertanya dengan guru dan di rumah hanya ada orang tua maupun keluarga yang belum tentu kompeten dalam membantu anak belajar. Penjelasan materi melalui video sangat berbeda dengan penjelasan langung di depan kelas. Banyak juga di temukan tugas-tugas mereka justru orang tua yang mengerjakan nya. Maka dapat disimpulkan nilai yang ada belum tentu menjadi cerminan kemampuan akademiknya.

Jadi menurut saya pemberian tugas yang banyak selama belajar daring tidak membuat anak menjadi semakin pintar dan rajin, melainkan di situasi seperti ini mereka malah menjadi tertekan, merasa jenuh dan enggan untuk belajar, apalagi mereka tidak bisa bermain bersama teman-teman dan hanya berada pada lingkungan yang sempit.

Guru dan orang tua dalam hal ini harus bekerja sama membangun komunikasi yang baik, bagaiamana orang tua bisa selalu mendampingi anak ketika belajar dan mengerjakan tugas, menyediakan lingkungan rumah yang nyaman untuk belajar dan guru menciptakan situasi yang tidak membosankan ketika sekolah daring tidak monoton berjam-jam menjelaskan materi sehingga membosankan dan ngantuk, serta jangan memberi tugas berlebihan, karena bisa membuat mereka tertekan bahkan kehilangan minat untuk belajar. Untuk orang tua yang sulit mendampingi anaknya belajar atau mengerjakan tugas, konsultasikan dengan guru jika mendapat kesulitan mereka menjawab soal. Kolaborasi yang baik antara orang tua dan guru dapat membantu anak melalui situasi saat ini. Membuat grup chat whatsupp sesama orang tua juga bisa menjadi solusi saling bertukar pikiran.

Bahwa sebenarnya kemajuan teknologi tidak dapat dihindari, cepat atau lambat kita juga akan dihadapkan pada kemajuan teknologi yang semakin berkembang. Hanya saja karena Pandemi Covid-19 terjadi begitu mendadak dan kita dipaksa beradaptasi lebih cepat. Ada orang-orang yang bisa dengan cepat menyesuaikan diri dan tidak terganggu dengan situasi sehingga mampu bertahan namun ada juga yang malah menjadi terpuruk, semua tergantung dari lingkungan yang dapat mendukung kita dalam beradaptasi.

Semoga kita selalu menjadi pribadi yang tidak pernah menyerah dan selalau belajar dari lingkungan mengenai hal-hal baru sehingga menjadi orang yang berilmu dan tidak kalah termakan oleh jaman.

-SEKIAN-

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed