by

BANGSA, NEGARA DAN PANCASILAKU

Muhammad Irvan Mahmud Asia

(Ketua Departemen Pertanian, Kehutanan dan Kemaritiman)

Indonesia yang sekarat, memanggil jiwa-jiwa pejuang, pemikir dan penjelajah yang dahsyat untuk menyegarkan kembali sejarah dan nasib yang buruk rupa–sejauh yang sanggup dirubahnya. Sebab kini, wajah kematian dan ketakutan plus kejahilian lebih dominan dari wajah kesegaran dan gotong-royong. Bahagia bersama kini sudah purba. Apalagi, sejahtera dan makmur bersama, kini sudah punah.

Sungguh, sejarah Indonesia tidaklah seindah kreasi taman bunga sorga. Sebaliknya sering didatangi oleh kebengisan, kekejaman dan kekejian yang berlarut. Tentu kebijakan dan kebijaksanaan terkadang mengemuka, tapi hadirnya diakronik dan sangat sebentar bahkan parsial. Anomali-anomali kini adalah keseharian kita. Yang baik dipenjara, yang buruk rupa dijadikan pedoman.

Mereka yang berkuasa susah menjawab pertanyaan, “bukankah jalan terbaik mengenal manusia lewat imannya? Kenapa di Indonesia iman kini tak lagi jadi pintu masuk berbagi keadilan dan kesejahteraan? Kenapa warganegaranya memilih uang sebagai nilai dan finisnya kehidupan?” Akhirnya kalimat, “biarkan nama Tuhan dan kerja imanmu menjadi penerangmu dalam segala aktifitasmu” kini tak lagi laku.

Sungguh. Tanah air kita tinggal satu: tanah air riil. Sedangkan tanah air formal (negara) dan tanah air mental (Pancasila) sudah habis dicomot oleh para begundal. Bangsaku yang benar, di ambang kepunahan. Negaraku yang sesuai cita-cita proklamator di ambang bubar. Pancasilaku yang merealitas di ambang badai.

Terlebih, tanah air riil pun sudah tergadai. Bapak-bapak presiden kita dan elite adalah aktor utama penggadaian itu. Tentu dibantu oleh para Sengkuni yang selonjoran di sampingnya. Sambil ngopi dan korupsi.

Bisakah kita temukan presiden yang mampu mengembalikan tiga tanah air tadi menjadi milik bersama kembali? Aku menantang kalian menemukan sosok itu. Now!

Kepada Tuhan yang maha esa di jagad raya, alam semesta tak terhingga. Salam kangen. Engkau tahu, kangenku sudah bertumpuk-tumpuk lebih dari 10 tahun lalu. Doa rindu matiku tak putus-putus, hingga detik ini. Engkau tahu, sudah tak ada yang menarik hatiku, semua karya dan takdirMu di sisa umur ini.

Tuhan. Engkau sebenarnya tahu aku sudah putus asa. Habis sudah semua asaku. Yang tertinggal hanya doa. Itu selemah-lemah iman padaMu. Dan, aku tak tahu apa maksudMu memanjang-manjangkan umurku. Tebakanku, engkau suka bermain dadu pada mahlukMu.

Tuhan. Rasanya, sudah lebih dari 10 tahun hidupku sangat gelisah, gelap dan resah. Tak nyenyak tidur, tak nikmat makan. Memikirkan nasib sebangsa yang miskin, meskipun saya seorang papa dan kejahatan elite plus cueknya orang-orang terkasih di sekitarku.

Tuhan. Makin ke sini, aku yakin praktek oligarki, kartel dan kleptokrasi yang predatoris akan berlangsung lama di negeriku. Dan, aku tak bisa apa-apa. Berdoapun sama saja.

Tuhan. Jika kini ada beberapa penipu bergurau soal kursi istana, biarlah aku bergurau soal rinduku padaMu. Sebab, sudah sering aku serius, tetapi kurasakan Engkau cuek saja. Kecuali sesekali kirim bencana besar. Cuma itupun bukan di Jakarta: kota segala khianat manusia; kota segala ingkar alam semesta.

Tuhan. Surgaku belum pasti. Tetapi di negeriku, orang-orang sibuk memasukanku

di nerakaMu. Imanku sederhana tetapi berbuah keruwetan luar biasa. Cintaku lirih tetapi berbunga pedih. Kutahu Engkau tahu.

Kawan. Aku telah menulis surat padamu bahwa kami di Indonesia sangat tidak baik kondisinya: amoral, anti kemanusiaan, anti gotong-royong, oligarkis dan bertradisi gotong-nyolong. Apakah yang bisa kawan lakukan buat kami?

Tuhan. Aku telah dan terus berdoa padaMu bahwa kami di Indonesia sangat tidak baik kondisinya: amoral, anti kemanusiaan, anti gotong-royong, oligarkis dan bertradisi gotong-nyolong. Sudikah Tuhan menolong kami dan menunjukkan apa yang harus dilakukan? Semoga ada solusi. Amiin..

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed