by

Pergantian Kekuasaan Gus Dur ke Megawati, Pertarungan Sesungguhnya Kini

Pergantian Kekuasaan Gus Dur ke Megawati, Pertarungan Sesungguhnya Kini

Oleh : Ketum DPN BMI Farkhan Evendi

Sudah dua dekade Presiden keempat RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dilengserkan dari jabatannya oleh MPR RI. Saat itu Presiden masih dipilih oleh MPR dan disebut sebagai pemegang mandat atau mandataris. Namun, kisah lengsernya Gus Dur masih menyimpan hal yang menarik untuk didiskusikan sebagai bentuk pelajaran politik yang sangat berharga.

Sebenarnya, melihat peta situasi politik yang ada pada saat itu, siapa yang paling diuntungkan oleh dilengserkannya Gus Dur? Apakah Amien Rais dan kelompoknya yang memang menjadi pihak paling vokal menurunkan presiden? Ataukah Megawati sebagai wakilnya saat itu? Atau malah Golkar selaku mantan partai penguasa? Atau ada pihak lain yang dengan sembunyi-sembunyi mau mengambil alih kekuasaan?.

Kejadian itu pada dasarnnya bagaikan benang kusut yang bisa kita urai satu persatu. Misalkan, jika Amien Rais saat itu maju menggantikan Presiden, tentu ini akan mendapatkan perlawanan dari partai-partai yang belum siap mendukung Amien Rais, apalagi posisi Amien Rais juga terlalu mencolok sebagai orang yang sangat vocal untuk melengserkan Gus Dur. Sehingga, dalam bahasa jawa Amien Rais pun mempunyai rasa “Pekewuh” jika ia sendiri mencalonkan dirinya maju ke tahta kursi Presiden tanpa adanya dukungan dari parpol lain.

Adapun yang didapat Amien Rais dari lengsernya Gus Dur tidak terlalu signifikan. Malah justru, kelompok Islam politik, termasuk Partai Keadilan Sejahtera (PKS), yang mendapat posisi lumayan, yang makin terwujud di era kepresidenan SBY. Mungkin bisa diklaim bahwa selama periode 2004-2014 atau di masa kepemimpinan SBY bisa dikatakan adalah masa kejayaan Islam politik di Indonesia pasca-Soeharto.

Menurut Amin Mudzakkir, peniliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), menyatakan bahwa pihak yang paling diuntungkan dari proses lengsernya Gus Dur sebenarnya adalah Megawati.

Hal ini ia tegaskan kembali melalui keterangan tertulisnya di media sosial. Serta pada acara bedah buku Virdika Rizky Utama yang laris manis tentang penjatuhan Gus Dur di Menes, Banten. Amin bilang bahwa pihak yang paling diuntungkan dari proses itu sebenarnya adalah Megawati.

Kenapa Megawati?. Terbukti ketika Gus Dur benar-benar lengser dari jabatannya sebagai presiden, Megawati langsung didapuk untuk menggantikannya. Selain karena partainya sendiri, PDIP, adalah pemenang Pemilu 1999 yang berhasil meraih suara lebih dari 33 persen.

Megawati melenggang menuju kursi kepresidenan tanpa ada kekuatan besar yang menghalangi. Posisinya ketika sebagai wakil presiden dan kenyataan bahwa dia adalah pemenang pemilu 1999 adalah justifikasi yang memang menguatkan.

Kita sejauh ini tidak perlu mencari tahu keuntungan posisi Golkar maupun pihak lain, karena sudah jelas, posisi yang diuntungkan adalah Megawati.

Disini, Megawati menyadari bahwa akan banyak pihak yang tidak suka terhadap politiknya, Megawatipun mulai membangun basis yang kuat di kalangan nasionalis sekuler dan muslim tradisionalis. Menyalonkan Joko Widodo untuk berduet dengan tokoh muslim sebagai jalan meraup suara di masa politik.

Tentu saja perubahan arus poitik akan terus terjadi. Posisi kelompok Islam politik pada dasarnya selalu berada di bawah hegemoni kelompok nasionalis sekuler. Mereka hanya bisa tampil ke permukaan sejauh dimanfaatkan oleh elite politik sekuler, sebagaimana terjadi di era akhir pemerintahan Soeharto dan SBY.

Situasi politik memang bergerak sangat dinamis, namun budaya Indonesia tidak bisa dibenturkan dengan kondisi politik meskipun di satu sisi masih banyak yang mencoba mencampuradukkan budaya dengan politik praktis di ranah sosial.

Akhir-akhir ini, berdasarkan hasil survei elektabilitas Partai Demokrat (PD) dan sang Ketua Umum Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) merangkak naik. Dari potret sejumlah survei yang digelar, AHY bahkan disebut masuk tiga besar bursa calon presiden pada Pemilu 2024.

Gelombang perlawanan dan kekecewaan rakyat akibat pandemi ini yang benar-benar menyentuh penderitaan masyarakat bawah, terlebih adanya kasus korupsi dana bansos oleh mantan mensos Juliari P Batubara yang merupakan bagian dari pimpinan inti PDIP, juga sangat menimbulkan kekecewaan rakyat.

Disini, bukan hanya mencoreng nama Partai, namun para partai elit pendukung juga disinyalir mendapat getahnya sehingga sontak saja partai oposisi langsung mendapat hati di masyarakat.

Lagi-lagi, Partai Demokrat digadang-gadang akan mampu membawa aura perubahan terhadap kemakmuran rakyat seperti di era SBY.

Dalam puncaknya, BMI berharap Demokrat menjadi Partai dengan raihan suara perlawanan yang lebih fenomenal dari kemenangan PDIP seperti di pemilu 1999, dan AHY akan menduduki kursi kepresidenan.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed